Secara pupuler kata idealisme berarti semacam pemimpi, yakni seseorang yang tidak praktis yang pandangannya tertuju kepada hal-hal atau keadaan-keadaan yang pada hakekatnya sempurna. Acap kali dipahamkan sebagai orang yang penuh awang-awang imajinasi. Kadang juga dipandang sebagai orang tolol dan paling-paling sebagai seorang dermawan yang lemah lembut serta baik hati. Tetapi di dalam bahas kefilsafatan, istitalah idealisme lebih menunjukkan kepada ide daripada menunjukkan pada ideal. Jika tidak karena sulit mengucapkannya, maka istilah kefilsafatan diganti ideisme.
Definisi Idealisme
Pemahaman akan idealisme akan mengenal istilah 'roh'
atau 'jiwa' dalam memahami nilai. Adanya nilai berarti ada suatu jiwa atau roh yang dapat memahaminya. 'Jiwa' tau 'roh' yang hanya dapat menangkap makna. Mereka yang mengatakan bahwa pengertian jiwa atau roh diperlukan, dinamakan “kaum idealis” dan ajaran mereka dikenal sebagai idealisme. G. Watts Cunningham, seorang idealis memberikan definisi yang paling sederhana kepada idealisme sebagai berikut :
“Idealisme merupakan suatu ajaran kefilsafatan yang berusaha menunjukkan agar kita dapat memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan waktu sampai pada hakekatnya yang terdalam. Maka ditinjau dari segi logika, kita harus membayangkan adanya jiwa atau roh yang menyertainya dan yang dalam hubungan tertentu bersidat mndasari hal-hal tersebut.”
Wilbur M. Urban, berpendirian bahwa semua penganut paham idealisme tentu bersepakat bahwa dunia mengandung makna. Sebab, jika tidak demikian maka tugas para filsuf yang sebenarnya menjaddi tidak berarti. Makna senantiasa terdapat di dalam suatu sistem yang merupakan kebulatan. Karenanya jika dunia ini mengandung makna, maka dunia tersebutharus merupakan suatu sistem, suatu kebulatan logis (spiritual).
Premis pokok yang diajukan oleh idealisme ialah bahwa jiwa mempunyai kedudukan yang diutamakan di alam semesta. Dunia dan bagiannya harus dipandang sebagai hal yang mempunyai hubungan seperti organisme dengan bagian-bagiannya. Dunia merupakan suatu kebulatan bukan kesatuan mekanik, melainkan kebulatan organik yang bagiannya mengungkapkan sesuatu dari kebulatan tersebut. Kebulatan ini harus harus dipandang sebagai kebulatan yang logis atau rohani, dengan makna sebagai intinya yang terdalam.
Jiwa (roh) dan Nilai
Urban mengungkapkan
“Istilah 'roh' dalam khasanah kata-kata kita menggambarkan pengakuan mengenai adanya niali-nilai dan adanya sesuatu dalam diri kita, yang bukan berupa alat-alat inderawi kita, yang menangkap dan memberikan pengahargaan kepada nilai-nilai tersebut.”
Dengan kata lain, sesuatu dalam diri kita yang memberikan pengakuan serta penghargaan kepada nilai-nilai, itulah yang dinamakan 'roh.' Meskipun bukan merupakan alat-alat inderawi kita, namun 'roh' tersebut mampu menangkap nilai-nilai.
William E. Hocking, memberikan istilah mengenai jiwa. Ia mengatakan “jiwa bersifat mempersatukan segala hal, misalnya mempersatukan waktu lampau, masa kini dan hari depan. Jiwa mempersatukan fakta dan nilai. Jiwa mempersatukan yang sungguh ada dan yang mungkn ada. Setiap hal yang bersifat fisik senantiasa termasuk dalam salah satu segi dari pasangan-pasangan di atas, dan tidak sekaligus termasuk dalam kedua macam segi. Setiap hal semacam ini senantiasa merupakan fakta yang sungguh ada pada masa kini. Maka yang membedakan jiwa dari setiap objek alam ialah bahwa jiwa disamping merupakan sandaran bagi yang mungkin ada, masa depan, dan yang bernilai atau secara singkat merupakan sandaran bagi kemungkinan adanya nilai-nilai di masa depan, kegiatan hakikinya ialah mempertautkan nilai-nilai yang mungki terdapat di masa depan dengan fakta yang sungguh ada di masa kini, dan menurut hemat saya hanya jiwalah yang dapat melakukan semua itu. Jiwa itulah yang merupakan satu-satunya alat yang dapat mewujudkan kemungkinan-kemungkinan di masa depan”
Hendaknya diperhatikan bahwa yang menjadi bahan bukti bagi pendirian kaum idealis bukanlah bahan keterangan yang bersifat inderawi serta hasil-hasil ilmu yang begitu saja diterima tanpa direnungkan lebih lanjut. Namun, tidak berati kaum idealis menganggap bahan-bahan keterangan yang bersifat inderawi atau yang bersifat ilmiah sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan atau merupakan ilusi.
Definisi Idealisme
Pemahaman akan idealisme akan mengenal istilah 'roh'
atau 'jiwa' dalam memahami nilai. Adanya nilai berarti ada suatu jiwa atau roh yang dapat memahaminya. 'Jiwa' tau 'roh' yang hanya dapat menangkap makna. Mereka yang mengatakan bahwa pengertian jiwa atau roh diperlukan, dinamakan “kaum idealis” dan ajaran mereka dikenal sebagai idealisme. G. Watts Cunningham, seorang idealis memberikan definisi yang paling sederhana kepada idealisme sebagai berikut :
“Idealisme merupakan suatu ajaran kefilsafatan yang berusaha menunjukkan agar kita dapat memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan waktu sampai pada hakekatnya yang terdalam. Maka ditinjau dari segi logika, kita harus membayangkan adanya jiwa atau roh yang menyertainya dan yang dalam hubungan tertentu bersidat mndasari hal-hal tersebut.”
Wilbur M. Urban, berpendirian bahwa semua penganut paham idealisme tentu bersepakat bahwa dunia mengandung makna. Sebab, jika tidak demikian maka tugas para filsuf yang sebenarnya menjaddi tidak berarti. Makna senantiasa terdapat di dalam suatu sistem yang merupakan kebulatan. Karenanya jika dunia ini mengandung makna, maka dunia tersebutharus merupakan suatu sistem, suatu kebulatan logis (spiritual).
Premis pokok yang diajukan oleh idealisme ialah bahwa jiwa mempunyai kedudukan yang diutamakan di alam semesta. Dunia dan bagiannya harus dipandang sebagai hal yang mempunyai hubungan seperti organisme dengan bagian-bagiannya. Dunia merupakan suatu kebulatan bukan kesatuan mekanik, melainkan kebulatan organik yang bagiannya mengungkapkan sesuatu dari kebulatan tersebut. Kebulatan ini harus harus dipandang sebagai kebulatan yang logis atau rohani, dengan makna sebagai intinya yang terdalam.
Jiwa (roh) dan Nilai
Urban mengungkapkan
“Istilah 'roh' dalam khasanah kata-kata kita menggambarkan pengakuan mengenai adanya niali-nilai dan adanya sesuatu dalam diri kita, yang bukan berupa alat-alat inderawi kita, yang menangkap dan memberikan pengahargaan kepada nilai-nilai tersebut.”
Dengan kata lain, sesuatu dalam diri kita yang memberikan pengakuan serta penghargaan kepada nilai-nilai, itulah yang dinamakan 'roh.' Meskipun bukan merupakan alat-alat inderawi kita, namun 'roh' tersebut mampu menangkap nilai-nilai.
William E. Hocking, memberikan istilah mengenai jiwa. Ia mengatakan “jiwa bersifat mempersatukan segala hal, misalnya mempersatukan waktu lampau, masa kini dan hari depan. Jiwa mempersatukan fakta dan nilai. Jiwa mempersatukan yang sungguh ada dan yang mungkn ada. Setiap hal yang bersifat fisik senantiasa termasuk dalam salah satu segi dari pasangan-pasangan di atas, dan tidak sekaligus termasuk dalam kedua macam segi. Setiap hal semacam ini senantiasa merupakan fakta yang sungguh ada pada masa kini. Maka yang membedakan jiwa dari setiap objek alam ialah bahwa jiwa disamping merupakan sandaran bagi yang mungkin ada, masa depan, dan yang bernilai atau secara singkat merupakan sandaran bagi kemungkinan adanya nilai-nilai di masa depan, kegiatan hakikinya ialah mempertautkan nilai-nilai yang mungki terdapat di masa depan dengan fakta yang sungguh ada di masa kini, dan menurut hemat saya hanya jiwalah yang dapat melakukan semua itu. Jiwa itulah yang merupakan satu-satunya alat yang dapat mewujudkan kemungkinan-kemungkinan di masa depan”
Hendaknya diperhatikan bahwa yang menjadi bahan bukti bagi pendirian kaum idealis bukanlah bahan keterangan yang bersifat inderawi serta hasil-hasil ilmu yang begitu saja diterima tanpa direnungkan lebih lanjut. Namun, tidak berati kaum idealis menganggap bahan-bahan keterangan yang bersifat inderawi atau yang bersifat ilmiah sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan atau merupakan ilusi.