Minggu, 06 Maret 2011

PERKEMBANGAN INTELEGENSI ALA JEAN PIAGET


Oleh : M. Ali Shoim, S.Pd
Jean Piaget merupakan salah satu orang yang menyumbangkan tenaganya dalam menguraikan psikologi perkembangan. Melalui teori-teori psikologi perkembangan, Jean Piaget memberikan pembahasan perkembangan tidak lepas dari perkembangan intelegensi. Menurutnya, perkembangan pengetahuan ialah terutama perkembangan intelegensi.

Kemampuan intelegensi ada hubungannya dengan ketiga fungsi rasio, yang berdasarkan ajaran Aristoteles (384-322 M) dibedakan dalam filsafat skolastik, yakni pemahaman, putusan, dan pemikiran. Dapat dikatakan, bahwa intelegensi dalam artinya menurut Jean Piaget ada hubungannya dengan fungsi-fungsi pengetahuan.

Intelegensi tidak akan dapat didefinisikan lepas dari perkembangannya, karena intelegensi itu meliputi proses mencari adaptasi yang seimbang. Proses adaptasi mencari suatu keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Tetapi harus disambungkan juga, bahwa keseimbangan tersebut harus distrukturasikan, atau lebih sederhana, atau secara lebih kompleks dan berfariasi, atau malah secara bertingkat-tingkat.

Proses adaptasi di sini harus dilihat dari pihak organisme dan pihak alam sekitar, yang kedua-duanya berperan dalam proses adaptasi tersebut. Melalui asimilasi dan akomidasi mkhluk-makhluk hidup mencari adaptasi yang betul-betul selaras dan seimbang. Tetapi menurut Jean Piaget itu lebih tepat berarti, bahwa adaptasi yang hanya mungkin melalui asimilasi dan akomodasi, terus-menerus mencari suatu keseimbangan antara keduanya dan dengan demikian antara organisme hidup dan alam sekitarnya.

Selanjutnya, Intelegensi hanya dapat diketahui dengan mengikuti seluruh perkembangan hidup pengetahuan sejak lahir sampai tercapainya keseimbangan (equilibrium) yang dewasa. Hanya dengan demikian akan dapat dilihat, bagaimana keseimbangan itu dicapai selangkah demi selangkah melalui tahap-tahapan.

Berikut merupakan tahapan perkembangan intelegensi menurut jean Piaget :

Tahap pertama (1 bulan) refleks-refleks bertambah-tambah dimantapkan dan didiferensiasi.

Tahap yang kedua (1-4 bulan) reaksi-reaksi melingkar yang primer mulai nampak serta dikembangkan menjadi usahausaha untuk memepertahankan gejala-gejala baru yang dihayati serta terasa berguna dan kebiasaan-kebiasaan motoris yang pertama.

Tahap yang ketiga (4-8 bulan) reaksi-reaksi melingkar yang sekunder muncul dan usaha-usaha untuk mempertahankan gejala-gejala yang menarik untuk dilihat, didengar, diraba, dan lain-lain.

Tahap yang keempat (8-12 bulan) si anak mulai menyingkirkan obyek-obyek penghalang, menentukan hubungan sarana-sarana dan memeriksa obyek-obyek dan gejala-gejala baru, untuk mengerti, bagaimana obyek atau gejala itu membiarkan dirinya diperlakukan.

Tahap yang kelima (12-18 bulan) melalui reaksi-reaksi melingkar yang tersier pertama-tama dikembangkanlah apa yang disebut percobaan-percobaan untuk melihat gejala mana akan timbul dan bagaimana, lalu usaha-usaha untuk menemukan sarana-sarana baru melalui percobaan yang diadakan secara aktif, yang akhirnya mengembangkan jenis kelakuan yang betul-betul diberi petunjuk memakai suatu alat. Pada tahap ini, si anak mencapai puncak perkembangan intelegensi sensori-motor.

Tahap yang keenam (18 bulan - 2 tahun) si anak mulai mempergunakan penghadiran batiniah dan proses simbolisasi, yang menaikkannya kepada tingkatan intelegensi representatif.
Atas tingkatan intelegensi represntatif perkembangan strukturasi intelegensi diterangkan oleh diadakannya proses abstraksi, yakni atau proses abstraksi sederhana atau aristotelian, atau proses abstraksi refleksif. Proses abstraksi sederhana atau aristotelian berarti bahwa perbuatan-perbuatan kognitif subyek diarahkan kepada sifat-sifat obyek yang dipelajari dan informasi yang diperoleh digali dari obyek sebagai sumbernya. Proses abstraksi refleksif berarti, bahwa perbuatan-perbuatan kognitif itu sendiri adalah yang diperhatikan dan melalui interiorisasi, koordinasi, generalisasi dan integrasi diolah menjadi operasi-operasi yang terstrukturasi oleh pengemudian diri dari dalam. Baru pengertian formal, yakni pengertian dan pengolahan logis-matematis yang dihasilkan oleh abstraksi reflekif tersebut nantinya akan merealisasikan secara menyeluruh sifat-sifat intelegensi.

Tahap yang ketujuh (2-4 tahun) pada tahap pra operasional si anak pertama-tama melalui tahap pemikiran simbolis dan prakonseptual. Jenis kelakuan disini yang ditemukan ialah peniruan tertunda, permainan simbolis dan menggambar. Perlu diperhatikan, bahwa anak mulai belajar berbahasa.

Tahap yang kedelapan (4-7 tahun) si anak sampai kepada pemikiran intuitif. Meskipun reaksi anak masih amat terikat kepada pengamatan inderawi yang aktual, namun pemikiran mereka mulai terarah kepada pemikiran logis tertentu meski masih sederhana. Selanjutnya si anak juga sudah berada pada tahap pemikiran operasional.

Tahap kesembilan (7-11 tahun) si anak berada pada tingkatan intelegensi operasional dalam suatu tahap yang pertama operasi-operasi yang masih konkret dikembangkan, yaitu operasi-operasi yang masih diadakan dalampenerapan langsung kepada obyek-obyek konkret. Baru pada tahap perkembangan yang terakhir (11-15 tahun) operasi-operasi menjadi betul-betul formal dalam arti yang murni.

Sumber : Veuger, Jacques.1983.Psikologi Perkembangan, epistemologi Genetik, dan Strukturalisme menurut Jean Piaget. Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi. Yogyakarta