Melihat fenomena social yang kian buruk menjadikan hati tergelitik untuk melihat permasalahan social. Kondisi ini dianggap sebagai bentuk imbas dari kondisi sebelumnya dan kondisi sekitarnya. Laksana air dalam danau, air ini akan keruh atau bening ditentukan oleh dari mana sumber air berasal dan faktor lingkungan biotik dan abiotik yang berada disekitar danau tersebut. Kedua hal ini akan mempengaruhi
unsur penyusun dalam kehidupan sosial ini.
Beberapa ahli sosial berpendapat bahwa masyarakat itu tersusun dari bagian-bagian yang berkumpul membentuk sebuah sistem. Akan tetapi ada pendapat lain, sistem masyarakat yang berkelompok akan membentuk karateristik individu yang menjadi bagian-bagiannya. Kedua pendapat ini memiliki kesamaan, yakni mengakui adanya bagian kecil dalam masyarakat.
Mahasiswa sebagai golongan atau bagian dari masyarakat lokal secara khusus dan masyarakat seluruh alam semesta secara umum. Peran mahasiswa sangat menetukan dalam perubahan kondisi sosial masyarakat. Predikat golongan intelektual lebih dibebankan kepada mahasiswa dibandingkan dengan golongan lain. Hal ini lebih dikarenakan jiwa muda yang masih proaktif, kritis dan semangat dalam kondisi anti kemapanan.
Mahasiswa hidup dalam lingkungan kampus, tempat ini bagaikan gudang kunci dari pintu kebuntuan masalah yang ada dimasyarakat. Lingkungan kampus memiliki prosedur dan alat yang dapat dignakan untuk aplikasi soial simasyarakat. Akan tetapi jika mahasiswa sebagai kkritikus kebijakan yang selalu berpandangan idealis (melihat sejarah masa lampau) sekrang ini mindsetnya telah dikerdilkan oleh kebijakan, maka kondisi mahasiswa sekarang tak ubahnya harimau yang ada dikebon binatang. Mereka dikagumi dan disegani oleh kaum penindas (meminjam istilah Ali Syari’ati) akan tetapi mereka tidak mampu menjadikau pencerah dilingkungan masyarakat.
Saat ini kondisi kampus tidak ubahnya seperti preusahaan yang dikuasai oleh kaum borjuis. Sehingga sulit untuk mengondisikan mahasiswa sebagai agent of control dan agent of cange. Dalam bahasa radikalnya, mahasisswa sekarang sudah dikerdilkan pemikirannya dengan sistem kampus yang dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan tirani. Mari tengok sistem perkuliahan, mahasisswa sekarang sudah disibukkan dengan pembuatan jadwal dan tugas kuliah, sehingga waktu yang digunakan mahasiswa untuk afilisiasi pengetahuan sangat minim. Kondisi ini secara akut akan mengakibatkan paradigma mahasiswa yang hanya teoritis saja. Kondisi kedua adalah, pembatasan aktifitas ekstra kampus. Tidak bisa dipungkiri bahwa potensi mahasisswa lebih berkembang didalam unit-unit aktifitas kampus. Kelompok-kelompok ini mampu mengembangkan kepribadian mahasiswa, mereka lbih matang dalam menentukan langkah strategis lewat diskusi-diskusi kultural. Pemunculan aturan jam malam memberikan penekanan intensitas kumpul mahasiswa. Kampus lebih takut jika mahasiswa kumpul-kumpul malem pasti melakukan tindakan negatif (hanya pandangan pengalihan pembahasan). Peribahasa mengatakan, jika ilmu dituliskan, dimana air di laut menjadi tintanya dan kayu dihutan menjadi kertasnya, maka tidak akan habis ilmu itu dituliskan. Bagaimana mungkin mahsisswa bisa mendapatkan ilmu tambahan jika dibatasi oleh sebuah dimensi.
Ini bukan merupakan cara pandang yang terlalu dramtis dalam melihat permaslahan kampus. Kampus sekarang diisi bagi mereka yang lebih beruntung memiliki rupiah. Biaya kuliah yang semakin mencekik leher orang tua tak kunjung surut. Beberapa mahasiswadiberi kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Tapi kembali lagi beasiswa ini layaknya minum racun saat kehausan di tengah gurun. Beasiswa lebih diprioritaskan kepada mereka yang sendiko dawuh ngawulo maring birokrat. Mahasiswa yang kritis dalam memandang ilmu sebagai pembahru sangat sulit untuk mendapat kesempatan ini. ini juga bukan sebuah sikap iri hati, karena perubahan hanya akan terjadi dari sikap kritis dan solutif.
Pengkerdilan pemikiran mahasisswa tak sepatutnya di berikan mutlak kepada kampus. Kondisi pendidikan di sekolah lanjutan juga memberikan batasan kepada siswa. Dikotomisasi ilmu pngetahuan yang berdampak kepada sikap aptisme sudah terjadi. Siswa melakukan pembelajran masih dibatasi oleh kurikulum muatan materi pelajaran yang telah ditentukan. Bentuk seragamisasi membuat siswa lebih pantas dipanggil dengan karyawan pabrik.
Kondisi mayarakat juga sangat berperan, meski sedikit. Kondisi masyarakat sebagai bentuk imbas dari globalisasi yang disetujui oleh Indonesia sejak tahun 1994. masuknya komputerisasi, permainan elektronik tidak mendapatkan saringan budaya lokal nusantara. Akibatnya hal ini diterima oleh semua lapisan masyrakat baik yang membutuhkan maupun yang tidak.
Masih banyak lagi kondisi lingkungan mahsiswa yang menjadikan apatisme mahasiswa. Jika diruntut permasalahan yang terjadi maha dapat ditelusuri sebenarnya siapakah yang lebih bertangung jawab terhadap kondisi ini dan siapakah yang mampu mengembalikan peranan mahasiswa dalam permasalahan kehidupan sosial.
unsur penyusun dalam kehidupan sosial ini.
Beberapa ahli sosial berpendapat bahwa masyarakat itu tersusun dari bagian-bagian yang berkumpul membentuk sebuah sistem. Akan tetapi ada pendapat lain, sistem masyarakat yang berkelompok akan membentuk karateristik individu yang menjadi bagian-bagiannya. Kedua pendapat ini memiliki kesamaan, yakni mengakui adanya bagian kecil dalam masyarakat.
Mahasiswa sebagai golongan atau bagian dari masyarakat lokal secara khusus dan masyarakat seluruh alam semesta secara umum. Peran mahasiswa sangat menetukan dalam perubahan kondisi sosial masyarakat. Predikat golongan intelektual lebih dibebankan kepada mahasiswa dibandingkan dengan golongan lain. Hal ini lebih dikarenakan jiwa muda yang masih proaktif, kritis dan semangat dalam kondisi anti kemapanan.
Mahasiswa hidup dalam lingkungan kampus, tempat ini bagaikan gudang kunci dari pintu kebuntuan masalah yang ada dimasyarakat. Lingkungan kampus memiliki prosedur dan alat yang dapat dignakan untuk aplikasi soial simasyarakat. Akan tetapi jika mahasiswa sebagai kkritikus kebijakan yang selalu berpandangan idealis (melihat sejarah masa lampau) sekrang ini mindsetnya telah dikerdilkan oleh kebijakan, maka kondisi mahasiswa sekarang tak ubahnya harimau yang ada dikebon binatang. Mereka dikagumi dan disegani oleh kaum penindas (meminjam istilah Ali Syari’ati) akan tetapi mereka tidak mampu menjadikau pencerah dilingkungan masyarakat.
Saat ini kondisi kampus tidak ubahnya seperti preusahaan yang dikuasai oleh kaum borjuis. Sehingga sulit untuk mengondisikan mahasiswa sebagai agent of control dan agent of cange. Dalam bahasa radikalnya, mahasisswa sekarang sudah dikerdilkan pemikirannya dengan sistem kampus yang dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan tirani. Mari tengok sistem perkuliahan, mahasisswa sekarang sudah disibukkan dengan pembuatan jadwal dan tugas kuliah, sehingga waktu yang digunakan mahasiswa untuk afilisiasi pengetahuan sangat minim. Kondisi ini secara akut akan mengakibatkan paradigma mahasiswa yang hanya teoritis saja. Kondisi kedua adalah, pembatasan aktifitas ekstra kampus. Tidak bisa dipungkiri bahwa potensi mahasisswa lebih berkembang didalam unit-unit aktifitas kampus. Kelompok-kelompok ini mampu mengembangkan kepribadian mahasiswa, mereka lbih matang dalam menentukan langkah strategis lewat diskusi-diskusi kultural. Pemunculan aturan jam malam memberikan penekanan intensitas kumpul mahasiswa. Kampus lebih takut jika mahasiswa kumpul-kumpul malem pasti melakukan tindakan negatif (hanya pandangan pengalihan pembahasan). Peribahasa mengatakan, jika ilmu dituliskan, dimana air di laut menjadi tintanya dan kayu dihutan menjadi kertasnya, maka tidak akan habis ilmu itu dituliskan. Bagaimana mungkin mahsisswa bisa mendapatkan ilmu tambahan jika dibatasi oleh sebuah dimensi.
Ini bukan merupakan cara pandang yang terlalu dramtis dalam melihat permaslahan kampus. Kampus sekarang diisi bagi mereka yang lebih beruntung memiliki rupiah. Biaya kuliah yang semakin mencekik leher orang tua tak kunjung surut. Beberapa mahasiswadiberi kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Tapi kembali lagi beasiswa ini layaknya minum racun saat kehausan di tengah gurun. Beasiswa lebih diprioritaskan kepada mereka yang sendiko dawuh ngawulo maring birokrat. Mahasiswa yang kritis dalam memandang ilmu sebagai pembahru sangat sulit untuk mendapat kesempatan ini. ini juga bukan sebuah sikap iri hati, karena perubahan hanya akan terjadi dari sikap kritis dan solutif.
Pengkerdilan pemikiran mahasisswa tak sepatutnya di berikan mutlak kepada kampus. Kondisi pendidikan di sekolah lanjutan juga memberikan batasan kepada siswa. Dikotomisasi ilmu pngetahuan yang berdampak kepada sikap aptisme sudah terjadi. Siswa melakukan pembelajran masih dibatasi oleh kurikulum muatan materi pelajaran yang telah ditentukan. Bentuk seragamisasi membuat siswa lebih pantas dipanggil dengan karyawan pabrik.
Kondisi mayarakat juga sangat berperan, meski sedikit. Kondisi masyarakat sebagai bentuk imbas dari globalisasi yang disetujui oleh Indonesia sejak tahun 1994. masuknya komputerisasi, permainan elektronik tidak mendapatkan saringan budaya lokal nusantara. Akibatnya hal ini diterima oleh semua lapisan masyrakat baik yang membutuhkan maupun yang tidak.
Masih banyak lagi kondisi lingkungan mahsiswa yang menjadikan apatisme mahasiswa. Jika diruntut permasalahan yang terjadi maha dapat ditelusuri sebenarnya siapakah yang lebih bertangung jawab terhadap kondisi ini dan siapakah yang mampu mengembalikan peranan mahasiswa dalam permasalahan kehidupan sosial.