Konsepsi kemandirian lokal adalah sintesis dari wawasan baru dan temuan-temuan sains. Konsepsi ini cenderung kepada paradigma Holisme-Dialogis. Holisme-Dialogisditunjang oleh tiga pilar utama bersama dengan pendekatan dialogis.
1. Holisme-Interkoneksitas
2. Doktrin Probalisme
3. Konstektualisme
Holisme adalah acuan utama konsepsi kemandirian lokal. Paham ini menyakini bahwa
semesta merupakan perwujudan interkoneksitas. Hubungan partisipasi tersebut mewajibkan tiap individu membekali diri dengan kompetensi untuk menjaga kemandiriannya. Pola tersebut akan menjadi konsepsi Kemandirian Lokal. Kemandirian lokal menekankan perlunya setiap individu memelihara dan meningkatkan kualitas kemandiriannya agar mampu berpartisipasi dalam proses pembaruan semesta.
Kata “lokal” diimbuhkan ubtuk memberikan konsepsi yang mengadopsi konsep sains baru bersifat lokal, yakni tunduk kepada hukum pemisahan ruang dan waktu.
Kemandirian lokal memposisikan tatanan sebagai entitas. Konsekuensi logisnya akan sulit dalam mengendalikan perilaku tatanan. Hal ini merupakan hasil dari analis paham holisme. Model tatanan sebagai entitas memiliki karateristik.
Pertama, setiap tatanan memiliki identitas yang spesifik. Identitas menjadi spirit tatanan yang menjaga dan sekaligus tercermin pada pola interkoneksitas yang terjadi. Kedua, struktur tatanan bersifat disipatif. Tatanan harus senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas interkoneksitas dengan lingkungannya. Kualitas interkoneksitas tergantung pada struktur tatanan. Ketiga, setiap tatanan memiliki kapasitas swatata (pengaturan diri) terhadap struktur dan juga termasuk pengayaan dan pematangan terhadap identitas untuk beradaptasi dengan lingkungannya.
Karateristik tatanan tersebut tidak bersifat absolut, karena membutuhkan pertukaran informasi, materi, dan energi dari lingkungannya demi mempertahankan keberlangsungannya. Kemandirian berkaitan dengan aktifitasnya mimilih kiat dalam melakukan peremajaan terhadap identitasnya dan memilih struktur yang dianggap sesuai dengan dinamika lingkungannya.
Sumber : Amien, A. Mappadjantji. 2005. Kemandirian Lokal. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
1. Holisme-Interkoneksitas
2. Doktrin Probalisme
3. Konstektualisme
Holisme adalah acuan utama konsepsi kemandirian lokal. Paham ini menyakini bahwa
semesta merupakan perwujudan interkoneksitas. Hubungan partisipasi tersebut mewajibkan tiap individu membekali diri dengan kompetensi untuk menjaga kemandiriannya. Pola tersebut akan menjadi konsepsi Kemandirian Lokal. Kemandirian lokal menekankan perlunya setiap individu memelihara dan meningkatkan kualitas kemandiriannya agar mampu berpartisipasi dalam proses pembaruan semesta.
Kata “lokal” diimbuhkan ubtuk memberikan konsepsi yang mengadopsi konsep sains baru bersifat lokal, yakni tunduk kepada hukum pemisahan ruang dan waktu.
Kemandirian lokal memposisikan tatanan sebagai entitas. Konsekuensi logisnya akan sulit dalam mengendalikan perilaku tatanan. Hal ini merupakan hasil dari analis paham holisme. Model tatanan sebagai entitas memiliki karateristik.
Pertama, setiap tatanan memiliki identitas yang spesifik. Identitas menjadi spirit tatanan yang menjaga dan sekaligus tercermin pada pola interkoneksitas yang terjadi. Kedua, struktur tatanan bersifat disipatif. Tatanan harus senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas interkoneksitas dengan lingkungannya. Kualitas interkoneksitas tergantung pada struktur tatanan. Ketiga, setiap tatanan memiliki kapasitas swatata (pengaturan diri) terhadap struktur dan juga termasuk pengayaan dan pematangan terhadap identitas untuk beradaptasi dengan lingkungannya.
Karateristik tatanan tersebut tidak bersifat absolut, karena membutuhkan pertukaran informasi, materi, dan energi dari lingkungannya demi mempertahankan keberlangsungannya. Kemandirian berkaitan dengan aktifitasnya mimilih kiat dalam melakukan peremajaan terhadap identitasnya dan memilih struktur yang dianggap sesuai dengan dinamika lingkungannya.
Sumber : Amien, A. Mappadjantji. 2005. Kemandirian Lokal. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta