Minggu, 22 Desember 2013

DO'A MAKHLUK

Bagi kaum beragama, do'a adalah sebagai bentuk kerendahan, permintaan, permohonan, ketundukan seorang makhluk kepada ALLAH. Dalam pengertiaanya, do'a memiliki definisi sebagai ibadah (menyembah), istighozah (memohon bantuan dan pertolongan), permintaan/permohonan, percakapan, memanggil, atau bahkan pujian.
Tapi yang sering dirasakan dan menjadi viewpoint, do'a adalah pengharapan untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginan manusia. Padahal, belum lah tentu keinginan manusia itu memiliki asas manfaat sosial yang tepat. Misalnya, seorang yang hendak melakukan perampokan. Pelaku (perampok) tersebut, satu malam sebelum merampok berdo'a agar diberikan perlindungan sehingga perampokan yang dilakukan akan lancar. Atau misalnya, saat seseorang memiliki acara penting dalam satu hari (hajatan/tasyakuran/lainnya), berdo'a agar dalam hari itu tidak turun hujan, padahal banyak petani di sekitar lingkungannya yang sedang membutuhkan hujan karena sawah yang sedang kering kekurangan air. dan masih banyak contoh yang pada tingkat mendasar, sebenarnya do'a telah mengalami transformasi menjadi alat atas pemenuhan egoisme atas birahi seorang makhluk.

Layaknya seorang berjiwa pengemis, saat diberi uang seribu akan kembali lagi minta seribu, dua ribu, lima ribu, dst.Saat nikmat yang diterima seorang makhluk, maka dia akan merasa kurang, mungkin ini yang disebut dengan 'ketagihan'. Jika demikian adanya, do'a tak ubahnya hanya sebuah candu. Dimana do'a hanya akan dilatunkan saat makhluk tersbut butuh atau merasa tak berdaya. Sedangkan saat kenikmatan itu telah diterima, mereka akan terkelompokkan menjadi dua golongan. Golongan pertama, akan merasa senang dan berhenti berdo'a. Golongan ini tentunya, menghilangkan makna do'a yang lain. Rajin sholat jema'ah di masjid, duduk iktikaf, do'a dengan disertai untaian dzikir dan ditambah dengan air mata menetes serta ingus yang ditarik ulur.

Golongan kedua, yakni akan terus melakukan do'a dengan penuh harap, apa yang menjadi do'a nya tak akan pernah dicabut atau berhenti, bahkan jika perlu lebih banyak. Khusus untuk golongan ini, bisa dikatakan sebagai orang tamak atau serakah. Seberapa besar dan banyak nikmat yang diminta dikabulkan, itu menjadi cermin seberapa besar dan banyak gumpalan keserakahan dalam hatinya. 

Seorang makhluk yang meminta sesuatu dalam do'a, bagi saya, seharusnya makhluk tersebut telah menyadari atas konsekuensi atas permintaannya. Maksudnya, permintaan tersebut memiliki muatan memaksa atas egoisme makhluk tersebut. Misalnya makhluk yang minta rizqi secara memaksa. "Ya ALLAH berilah hamba rizqi yang cukup, jika dalam rizqi kami masih ada yang kotor maka bersihkan lah". Padahal dalam aplikasinya, dalam bekerja mencari rizqi, makluk tersebut melakukan penipuan-penipuan kepada koleganya. Jika makhluk itu ditanya, "kenapa engkau mencari rizqi dengan demikian? Bukankah cara yang demikian itu adalah yang kotor?" Maka dengan penuh bijakasana maka makhluk tersebut akan memberikan komentar, bahwa "dalam setiap do'a ku, aku selalu memohon agar rizqi yang ku peroleh agar dibersihkan, bukan kah aku punya ALLAH Yang Maha Suci? Selain itu, zakat 2,5% dan sedekah kepada fakir, miskin dan anak yatim telah ku penuhi".