Sabtu, 26 Oktober 2013

Postmo dan Jahiliyyah

Siapa pun pasti menyepakati bahwa manusia adalah makhluk sosial, yang interaksi, komunikasi, dan hubungan antar individu lainnya adalah hal pokok sebagai fitrah manusia, sebagai makhluk hidup aktif. Meski demikian, dalam kondisi hubungan setiap hari, hal ini nampaknya sudah mulai mengalami kematian. Sebab utama yang dibahas disini adalah yang berhubungan dengan lifestyle. Bagi masyarakat korban, budaya individual tercipta atas struktur lingkungan, yang entah sengaja atau tidak, telah direkayasa dan sudah lama dijalani. Sebut saja pola hidup materialis.


Era postmo, saat ini, telah menjadikan manusia susah untuk disebut manusia lagi. Secara fisik tentunya beda, tapi secara psikologi sudah sangat rumit. Manusia menurut definisi terdahulu adalah sosok materi dengan kebebasan gerak tubuhnya yang dilengkapi dengan nafsu, hati, dan akal. Sedangkan yang lain, hanya memiliki sebagian saja dari apa yang dimiliki manusia. Akan tetapi, jika teori dari definisi manusia itu dipakai, maka sulit untuk menunjuk bahwa itu manusia.

Bukan menempatkan postmo sebagai posisi salah yang harus ditentang, tapi semangat postmo sangat mengarah pada pembentukan zaman jahiliyah. Dimana kerusakan dipandang sebagai seni, bahkan pelanggaran dianggap sebagai kebenaran untuk melawan harmonisasi sistem struktur.
Zaman jahiliyyah bukanlah peradaban dalam arti bodoh secara materi. Zaman jahiliyyah lebih kepada bagaimama kebejatan telah menjadi kebudayaan masyarakat untuk lebih bebas melakukan ekspresi nafsu syahwat tanpa memandang norma. Masyarakat jahiliyyah lebih mengutamakan estetika dengan meninggalkan makna epistemology. Sehingga estetika dianggap lebih berwibawa dibanding etika. Saat telanjang badan lebih indah dibandingkan busana. Saat aksi lebih konkret dibandingkan cendekia.