Menyadari potensi internal diri, akan membawa manusia untuk aktif mengerahkan potensi diri guna mencapai keinginan-keinginannya. Pencapaian keinginan tersebut, didasarkan pada kepuasan berbasis kebahagiaan yang menyenangkan. Yang pada ujungnya, dalam seluruh aktifitasnya, manusia lupa dengan hal yang bersifat dasar & lebih mengedepankan kesenangan. Bukan lagi pencapaian kebutuhan, tapi menikmatinya.
Manusia memang memiliki keinginan.
Manusia juga cenderung pada kebahagian.
Potensi manusia dapat juga dikerahkan.
Tapi saat kepuasan melakukan duplikasi sel, maka apa yang disebut manusia, adalah absurd.
Telah cukup nikmat buat manusia.
Keberlebihan menjadi tanda ketakbermampuan buat manusia.
1. Potensi Internal Diri
Dimaksud dalam hal ini, berkenaan dengan semua potensi yang ada dalam setiap pribadi manusia. Pengertian yang dirasa dapat mewakili nya adalah sumber daya manusia (SDM). Potensi internal akan memberi pacuan bahwa setiap manusia mampu mengerahkan potensi (psikologis) sesuai dengan kapasitas dan karakteritas yang dimilikinya. Pada kebanyakan orang, potensi internal tidak serta merta dapat langsung dirasa ataupun digunakan, sehingga dibutuhkan pemicu, atau pada saat ini disebut motivasi, untuk aktifasinya. Aktifator ini juga dapat hanya bersifat pemacu, sehingga meminta manusia tadi untuk aktif melakukan pencarian potensi internal.
2. Keinginan Manusia
Pendapat-pendapat mengenai keinginan manusia, pada umumnya dibicarakan sebagai sebuah fitrah, atau sifat dasar yang ada pada semua manusia. Keinginan menjadi bentuk dari hasrat yang mampu mendorong akal dan hati untuk sebuah kebutuhan. Wilayah operasi keinginan berada pada tingkat psikis. Transformasi keinginan, lebih lanjut akan meminta pemenuhan atas kebutuhan, atau bahkan, keinginan melakukan transformasi menjadi kebutuhan. Saat kondisi seperti ini, keinginan akan menjadi sel hidup yang mampu melakukan perkembang biakkan terus menerus, akibat usaha manusia untuk mencapai pemenuhan kebutuhan. Pada tingkat akut, kebutuhan manusia tidak akan pernah terpenuhi, dikarenakan kebutuhan telah ditarik pada posisi keinginan. Jika dulu, posisi keinginan dan kebutuhan berada posisi berbeda, sekarang ini posisi tersebut telah membaur. Sehingga, saat ini yang terjadi adalah menikmati keinginan. Dengan kata lain, menikmati kebutuhan. Padahal kebutuhan itu adalah tanda kekurangan manusia.
Manusia memang memiliki keinginan.
Manusia juga cenderung pada kebahagian.
Potensi manusia dapat juga dikerahkan.
Tapi saat kepuasan melakukan duplikasi sel, maka apa yang disebut manusia, adalah absurd.
Telah cukup nikmat buat manusia.
Keberlebihan menjadi tanda ketakbermampuan buat manusia.
1. Potensi Internal Diri
Dimaksud dalam hal ini, berkenaan dengan semua potensi yang ada dalam setiap pribadi manusia. Pengertian yang dirasa dapat mewakili nya adalah sumber daya manusia (SDM). Potensi internal akan memberi pacuan bahwa setiap manusia mampu mengerahkan potensi (psikologis) sesuai dengan kapasitas dan karakteritas yang dimilikinya. Pada kebanyakan orang, potensi internal tidak serta merta dapat langsung dirasa ataupun digunakan, sehingga dibutuhkan pemicu, atau pada saat ini disebut motivasi, untuk aktifasinya. Aktifator ini juga dapat hanya bersifat pemacu, sehingga meminta manusia tadi untuk aktif melakukan pencarian potensi internal.
2. Keinginan Manusia
Pendapat-pendapat mengenai keinginan manusia, pada umumnya dibicarakan sebagai sebuah fitrah, atau sifat dasar yang ada pada semua manusia. Keinginan menjadi bentuk dari hasrat yang mampu mendorong akal dan hati untuk sebuah kebutuhan. Wilayah operasi keinginan berada pada tingkat psikis. Transformasi keinginan, lebih lanjut akan meminta pemenuhan atas kebutuhan, atau bahkan, keinginan melakukan transformasi menjadi kebutuhan. Saat kondisi seperti ini, keinginan akan menjadi sel hidup yang mampu melakukan perkembang biakkan terus menerus, akibat usaha manusia untuk mencapai pemenuhan kebutuhan. Pada tingkat akut, kebutuhan manusia tidak akan pernah terpenuhi, dikarenakan kebutuhan telah ditarik pada posisi keinginan. Jika dulu, posisi keinginan dan kebutuhan berada posisi berbeda, sekarang ini posisi tersebut telah membaur. Sehingga, saat ini yang terjadi adalah menikmati keinginan. Dengan kata lain, menikmati kebutuhan. Padahal kebutuhan itu adalah tanda kekurangan manusia.