Minggu, 23 Februari 2014

REKAYASA MIMPI; Pemimpi yang Ingin Bangun

Sejak kemunculannya, motivator sering memberikan keaguangan terhadap mimpi. Bagia saya ini adalah keruntuhan nalar manusia dan berkembangnya imajinasi. Saat kedua nya bertemu, maka pemimpi tak akan dapat lagi membedakan, antara realitas mimpi dan realitas kesadaran. Berkenaan dengan mimpi yang demikian tersebut, ada 3 hal yang perlu didiskusikan, pertama tentang mimpi, kedua tentang motivasi mimpi, dan ketiga tentang rekayasa mimpi.


1. Mimpi
Mimpi dikatakan sebagai bunga tidur. Dimana struktur mimpi berada pada dimensi yang berbeda dengan dimensi yang dimana manusia eksis. Bisa dikatakan bahwa dimensi mimpi terletak sama dengan dimensi ide. Atau bisa dikelompokkan dalam dimensi imateri. Tapi meski demikian, dimensi imateri tersebut dapat dijangkau oleh manusia, seperti kita ini.
Terdapat koneksitas antara dimensi kesadaran manusia dengan dimensi mimpi. Sehingga, manusia pada waktu tertentu dapat masuk dan keluar dari dimensi mimpi menuju dari/ke dimensi kesadaran. Tentunya ada syarat kondisi atas manusia agar bisa menikmati dimensi mimpi.
Dimensi mimpi terbentuk dari kumpulan tanda yang telah direkam dalam pikiran (otak) manusia. Tanda tersebut secara acak akan membentuk pertanda yang oleh manusia (dalam dimensi kesadaran) dapat membentuk uraian realitas mimpi. Pada tingkatan tersebut, uraian realitas mimpi yang terbentuk dapat direkam dan dirasakan. Sehingga bagi manusia yang bermimpi akan menimbulkan kesan bahwa ia benar-benar eksis dalam dunia mimpi. Baru setelah manusia yang bermimpi tersebut sadar & berada pada dimensi kesadaran, dia baru akan bisa mengatakan bahwa dia baru bermimpi.
Dimensi mimpi akan menghasilkan bekas, yang bagi manusia yang bermimpi akan merasakan dan mampu menceritakan ulang uraian realitas mimpi yang dialami. Terkesan, seakan-akan manusia yang bermimpi tadi berada pada dimensi kesadaran. Padahal, saat itu dia berada dalam dimensi mimpi.

2. Motivasi Mimpi
Koneksitas antara dimensi mimpi dan dimensi kesadaran manusia, berdampak pada fluktuasi ego manusia tersebut. Pada tingkat ide, mimpi yang dirasakan bagus akan memberikan efek semangat positif, sebaliknya, saat mimpi yang dirasakan tidak sesuai dengan pengharapan maka akan membuat preasure dalam tingkat ego. Ujungnya, manusia tersebut akan sedih dan gundah. Jika mimpi bagus akan langsung bertranformasikan menjadi semangat positif, sedangkan mimpi buruk akan cenderung menjadi kesedihan. Karena manusia sadar bahwa mimpi buruk adalah dimensi mimpi yang bukan dimensi kesadaran, maka manusia akan berusaha menafikkan dimensi mimpi buruk tersebut. Berbeda dengan mimpi bagus, meski sadar bahwa mimpi bagus juga merupakan dimensi mimpi, tapi bagi manusia akan menanamkan bahwa dimensi mimpi itu bisa jadi sama dengan dimensi kesadaran. Dengan demikian mimpi bagus harus terwujud atau diwujudkan dalam dimensi kesadaran.
Sifat dasar manusia selalu ingin berada dalam kondisi menyenangkan. Begitu juga saat manusia berada dalam dimensi mimpi. Bedanya dalam dimensi mimpi, manusia bisa menjadi pengendali penuh atas pertanda yang terbentuk dalam uraian realitas mimpi. Sedangkan dalam dimensi kesadaran, manusia terikat oleh realitas tanda dan pertanda dimensi kesadaran.
Menyadari hal tersebut, dimensi mimpi saat ini dijadikan arah untuk mewujudkan keinginan, keinginan untuk selalu berada dalam kondisi menyenangkan. Entah sadar atau tidak, manusia tidak mampu menguasai dimensi kesadaran. Dengan bantuan uraian realitas mimpi, manusia akan berusaha mewujudkan dimensi mimpi yang dibentuk. Simpelnya, dimensi mimpi dijadikan dimensi kesadaran, sehingga akan benar-benar eksis bagi manusia yang bermimpi tersebut. Tentunya, dimensi mimpi bagus yang ingin diwujudkan dan dimensi mimpi buruk akan dihindari.
Pada kondisi yang demikian, dimensi mimpi telag berubah menjadi wahana inspiratif. Sebuah wahana yang akan sering dikunjungi manusia untuk melakukan recharger motivasi. Kondisi ini tidak ubahnya bagaikan opium yang menjadikan manusia kecanduan dan bergantung atas kesuksesan. Siapa yang punya mimpi, maka dia yang punya visi kedepan.
Keinginan manusia untuk masuk dan keluar dimensi mimpi, menjadi tanda kelemahan manusia dalam dimensi kesadaran. Manusia cenderung untuk menguasai dimensi kesadaran, tetapi saat menyadari hal tersebut tidak akan mungkin, maka dimensi mimpi jadi pelarian.

3. Rekayasa Mimpi
Pada dasarnya, tentang yang diuraikan di atas, terdapat dua mimpi yang perlu diketahui. Pertama, tentang mimpi dari manusia yang terbentuk dari akumulasi acak atas tanda-tanda yang telah direkam dalam ingatan/ide manusia. Dimensi mimpi ini dapat dimasuki manusia dengan kondisi-kondisi yang alamiah, yakni tidur. Uraian realitas mimpi yang terbentuk tidak serta merta, langsung diartikan seperti gejala yang tampak. Tanda-tanda dalam realitas mimpi ini, perlu diterjemahkan, karena sifatnya adalah simbolis.
Kedua, mimpi rekayasa. Jenis mimpi ini merupakan pembentukan uraian realitas dari tanda-tanda yang ada dalam otak manusia. Tanda ini sengaja dibentuk dari pondasi nafsu, keinginan dan hasrat manusia. Dimulai dari sini mulai bisa dikatakan sebagai pembentukan rekayasa sebuah dimensi mimpi. Dengan keterlibatan faktor tersebut, manusia dapat masuk dalam dimensi mimpi tanpa harus melalui proses tidur. Uraian realitas mimpi yang terbentuk pun tidak perlu lagi diterjemahkan, karena realitas yang terbentuk tersebut tidak jauh beda dengan sebuah ubahan dari keinginan dasar, nafsu, dan hasrat dari manusia yang membentuk dimensi mimpinya sendiri.
Rekayasa mimpi dikatakan demikian, karena dalam aktualnya mimpi tersebut benar-benar berasal dari internal pemimpi. Rekayasa mimpi juga bisa dikatakan sebagai alternatif motivasi pembebasan. Dimana manusia merasa terkekang, tak berdaya, dan terkontrol dalam dimensi kesadaran. Semangat kebebasan inilah yang membuat orang merasa yakin bahwa melalui rekayasa mimpi, semua bentuk fitrah manusia, seperti kebebasan, kebahagiaan, kemapanan, dan lainnya dapat terluapkan. Dengan demikian, secara tersirat, manusia pemimpi berusaha untuk membentuk dunia harapannya melalui rekayasa mimpi yang secara sistemik akan menjadi inspirasi saat manusia pemimpi berada dalam dimenasi kesadaran.
Saat dunia ini dibentuk dari harapan mimpi seseorang, maka kita adalah kepingan tanda yang ada dalam otak manusia pemimpi. Yang berarti pula, kita adalah bentukan imajinasi dari manusia pemimpi.