Selasa, 24 Mei 2011

Reposisi Theisme dalam Abiogenesis


Teori awal kehidupan sudah dimulai sejak masa yunani kuno, aristoteles yang kemudian mulai tahap berkembangnya sekitar abad ke-17. Hingga saat ini perkembangan pengetahuan ini mengalami kemajuan yang pesat. Hal ini tidak terlepas dari berkembangnya ilmu pengetahuan dari cabang ilmu paleontologi hingga biologi. Alat yang dikembangkan juga semakin lebih teliti, jika robert hook (1665) mengamati celula pada gabus yang diamati menggunakan kaca pembesar biasa tentunya sudah tidak layak pengamatan tersebut digunakan. Penemuan mikroskop elektron yang mampu mengamati dengan pembesaran hingga sekian juta kali.

Beberapa teori awal kehidupan yang saat ini digunakan adalah teori biogenis dengan pendukungnya sepert; lazzaro spalanzani, fransisco redi, dan louis pasteur. Teori ini berkembang hingga sekarang setelah mengklaim telah menyanggah teori abiogenesis milik aristoteles (384 sm) dan pengikutnya antonie van leuwenhoek. Meski demikian perlua ada pembahasan mengenai penciptaan awal dari makhluk hidup.

Pengelompokan makhluk hidup dikenalkan awalnya oleh John ray (1627). Ia menggunakan dasar ciri yang dimiliki. Aristoteles berpendapat bahwa segala sesuatu di alam dapat dikelompokkan. Mahkluk hidup dikelompokkan berdasarkan ciri abstrak yang dimiliki, seperti tumbuh dan berrkembang. Sedangkan mahluk mati dikelompokkan selain yang masuk dalam kelompok makhluk hidup yang tidak tumbuh dan berrkembang. Dari pemahaman antara makhluk hidup dan makhluk mati, kita mengetahui batasan-batasannya.

Teori dan percobaan yang diadakan oleh leewenhoek bisa dikatakan tidak kompitible dengan konsepsi yang disampaikan. Ia terjebak oleh emperistik sebuah arti hidup. Beberapa kejadian di alam semesta jika hanya menggunakan salah satu teori biogenesis atau abiogenesis sungguh terjebak pula kita pada doktrin pengetahuan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kehidupan seekor ayam (dikatakan makhluk hidup) berasal dari sebuah telur (dikatakan benda mati) ataupun sebaliknya. Telur jika dilihat bagian proses historis dan perkembangan, bisa dikatakan hidup. Telur berasal dari pertemuan sel sperma dan sel ovum dalam organ seks betina yang mengalami perrkembangan diluar tubuh. Zigot dalam telur akan berkembang dan tumbuh selama 21 hari, sehingga akan berkembang menjadi embrio dan menetas menjadi ayam kecil.

Pengelompokan antara yang hidup dan yang mati perlu dipahami secara jelas. Agar tidak terjadi ambigu pengertian. Cara pandang yang digunakan harus mendasar secara subtantif. Penggunakan ini berhubungan dengan karateristik filsafat materi dan imateri. Bisa dikatakan bahwa segala yang ada ini dikatakan materi jika dapat ditangkap melalui pencandraan sehingga terjadi konektifitas antara materi-materi penyusun tersebut. Sedangkan imateri adalah segala hal yang hanya mampu ditangkap oleh pemikiran dan perasaan yang tidak bisa diperoleh dari pencandraan. Muatan imateri akan terdapat dalam subtantif materi itu sendiri. Keberadaan kedua ini hal ini sulit untuk dipisahkan.

Semisal saja jika mengelompokkan jeruk dengan yang lain maka kita harus mengetahui apa jeruk itu terlebih dahulu. Pemahaman akan jeruk dapat diperoleh dari pemahaman materi maupun imateri. Secara materi jeruk itu dapat dipahami dari penampakan akan jeruk itu, sehingga bisa saja dikatakan bahwa jeruk adalah buah tanaman yang berasa manis dan asam mengandung air dengan kulit berwarna hijau atau kuning. Berbeda dengan pemahaman secara imateri, pemahaman ini tidak mebutuhkan keberadaan jeruk itu. Pemahaman ini dapat diperoleh dari informasi yang diperoleh, hasil pemikiran ataupun dari pengalaman.

Demikian juga dalam mengategorikan antara hidup dan mati. Sehubungan dengan itu dosen senior Universitas Indonesia, Jatna supriatna menyampaikan bahwa hidup itu ditandai dengan adanya proses tumbuh dan berkembang. Kemudian, makhluk hidup memiliki karaterristik memiliki tata organisasi (sel, jaringan, organ, sistem organ), memerlukan materi dan energi (metabolisme), merespons rangsang (iritabilita), bertumbuh, berkembang, dan bereproduksi, Beradaptasi, mampu menjaga keseimbangan internal (homeostasis). Dengan adanya hal tersebut akan ditemukan klasifikasi keanekaragaman makhluk hidup seperti yang dikenalkan oleh carolus linneaus (1707).

Sedangkan kelompok yang dikatakan mati menurut ilmu fisika ada, yakni padat, cair, dan gas (sekarang udah ditambah dengan plasma). Jika dibongkar lebih rinci lagi, kelompok ini masih tersusun dari partikel unsur yang sangat kompleks. Sekarang ini telah dikenal ada 96 unsur dalam cabang kimia. Sebenarnya unsur penyusun dalam benda tiddak dapat dikatakan mati, karena unsur tersebut fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan (pembahasan ini dapat kita bahas lebih lanjut). Meski demikian dikatakan mati karena tidak menunjukkan karateristik seperti makhluk hidup.

Mari kita uji teori abiogenesis dengan pemahaman ada batas yang jelas antara yang hidup dengan yang mati. Kata abiogenesis berasal dari kata a berati tidak, bio berarti hidup, dan genesis berarti proses. Sehingga abiogenesis dapat dikatakan sebagai proses kehidupan berasal dari materi yang tidak hidup atau  mati, yang prosesnya terjadi secara begitu saja (spontanae).

Konsepsi ini membawa kita pada suatu keberadaan yang tiada menjadi ada. Keberadaan makhluk hidup yang sekarang merupakan sebuah bentuk siklus hidup yakni dari keberadaan yang ada menjadi ada. Ayam dari telur induknya, bayi dari rahim sang ibu, dan bumi dari dentuman big bang. Sehingga kita tidak bisa mengambil contoh dari yang ada di alam semesta ini mengenai konsepsi abiogenesis.

Meski demikian kita tidak perlu pesimis untuk membuktikan kebenaran teori abiogenesis. Bahkan intelektual muslim yang menggunakan aliran ontologis, ibnu rusy memaparkan beberapa opini dengan didasarkan keterangan al qur’an. Meski ditentang oleh al ghazali, ibnu rusy memiliki landasan dasar yang fundamentalis mengenai konsepsinya, sehingga ia berikut pemikir abiogenesis lainnya mampu menjawab kebimbangan al ghazali. Layaknya demikian, teori abiogenesis tidak sepenuhnya salah. Ada sebagian konsepsi ini yang akan menjawab peristiwa diluar nalar logika manusia.

Sebut saja, bagaimana proses kehidupan perintis lumut untuk memulai kehidupan baru pada substrat yang tidak pernah ada tanaman termasuk lumut itu sendiri. Beberapa keterangan siklus hidup lumut telah diperoleh keterangan. Lumut baru akan terbentuk dari pertemuan spermatozoid yang dihasilkan dari anteredium dengan ovum yang dihasilkan dari arkegonium, entah alat kelamin (gametangia) tersebut dalam satu atau dua individu.

Lumut dikenal sebagai makhluk perintis, dimana ia dapat hidup menempel pada substrat yang oleh tanaman lain tidak dapat hidup. Jika lumut hidup dari spora yang jatuh dan berkembang, maka akan timbul pertanyaan dari mana awal spora itu datang dan bagaimana spora itu bisa sampai tempat itu. Padahal tidak ada makhluk lain yang hidup pada daerah tersebut. Bukan sebuah kemungkinan atau kebetulan yang menjadi jawaban dari hal tersebut.

Selain itu bagaimana para ilmuwan mampu menjelaskan tentang keberdaan awal dari jamur yang hidup pada substrat. Jika para pendukung teori biogenesis menyatakan tidak ada kehidupan setelah air kaldu dalam tabung leher angsa dan sekerat daging dalam toples yang ditutup rapat. Mereka lupa akan komponen penyusun hidup yang disampaikan kon fu sius, bahwa untuk menyusun hidup itu dibutuhkan empat komponen yakni udara, angin, air, dan api. Susunan ini tidak secara sederhana dikatakan sebagai susunan yang yang dapat direkayasa. Keberadaan belatung dan mikroba lain mungkin dapat dibawa oleh lalat atau organisme lainnya. Akan tetapi sistem sterilisasi ini dapat dikatakan salah karena jika ditutup rapat atau dalam tabung leher angsa, maka ada sebuah kemungkinan susunan udara yang masuk dalam tabung tersebut sangat jauh berbeda dengan kondisi wadah terbuka. Tekanan parsial udara, ikatan partikel, bahkan kondisi keasaman juga akan berbeda pula. Kita dapat menemui sebuah kejadian bagaimana jamur dapat hidup pada substrat yang mungkin tidak biasa yakni kain basah di dalam ruangan yang terbuka dengan masih mendapat pantulan sinar matahari.

Ilmu pengetahuan memberikan keterangan mengenai bagaimana jamur berkembangbiak. Perkembangbiakan jamur dapat terrjadi secara vegetati ataupun generatif. Perkembangbiakan vegetaitif terjadi dengan cara frgamentasi hifa, pembentukan spora, dan membelah diri. Sedangkan perkembangbiakan generatif dapat terjadi melalui proses konjugasu atau gametogami. Hal yang menjadi permasalahan adalah jika benar perkembangbikan jamur dapat terjadi secara demikian, maka dari mana asal bagian hifa, spora, tunas, atau sel kelamin yang berkembang menjadi individu baru.

Jika harun yahya dalam menguatkan sanggahannya menggunakan landasan sebuah keyakinan, maka tiada salahnya jika pada pembahasan teori abiogenesis yang sempat dipermasalahkan oleh al ghazali, kita juga menggunakan sebuah keyakinan bahwa di alam semesta ini bagi ALLAH tidak ada yang tidak mungkin. ALLAH Maha Kuasa atas segala kejadian yang ada di alam semesta ini.

Al qur’an yang diperkuat hadist dalam kitab Jami’ shoghir, memberikan keterangan bahwa Nabi Adam A.S sebagai manusia pertama yang diciptakan berasal dari tanah. Tentunya hal ini secara ilmiah belum ada ilmuan yang membuktikannya, karena terlampau jauh logika menerima penjelasan ini.

Dari pemapakaran yang cukup singkat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam konsepsi pembentukan alam semesta tidak dapat hanya dijelaskan dengan teori biogenesis maupun abiogenesis saja. Hal demikian dikarenakan penciptaan hidup di alam ini membutuhkan konsepsi yang lebih kompleks lagi bagi akal pikir manusia.