Sabtu, 08 Juni 2013

Filosof Belajar Menanam Mangga

"Segala yang besar itu ditentukan oleh yang kecil."
Teringat dengan kalimat tersebut, saat mata melotot pada layar yang diberi judul "Jakarta Di Hati". Bagi saya, hal itu bukan hal yang baru. Akan tetapi, kalimat tersebut diungkapkan dengan
latar belakang yang jauh berbeda. Dalam sandiwara itu, kalimat di atas muncul dari sebuah baju yang memiliki bagian yang vital yakni kancing. Kancing di baju bukan hanya sebuah aksesoris. Tapi bagian vital yang menjadikan rajutan benang, baru bisa disebut baju secara sempurna saat terdapat kancingnya. Sedangkan bagi saya, kalimat di atas menjadi sebuah ilmu sudah dahulu kala saat saya mempelajari harmonisasi alam semesta ini. Dimana, sebuah keindahan dan keharmonisan alam ditentukan oleh bagian-bagian yang menyusunnya.
Pandangan atomia, menyebut partikel kecil ini sebagai atom. Tapi, nama atom saat ini perlu reaktualisasi. Meski demikian, apapun juga namanya, tetap saja sesuatu yang macro memiliki struktur.
Dalam hukum alam, bagian kecil dalam sebuah struktur alam akan mengalami perkembangan & pembiakkan.  Perkembangan adalah bentuk menjadi, bisa menjadi besar atau menjadi tinggi atau menjadi luas. Sedangkan pembiakkan adalah bentuk pergantian. Pergantian yang sinkron. Dari bentuk satu dilanjutkan oleh bentuk lain, bentuk lain ini secara wujud berbeda, tapi secara fisiologi memiliki kemiripan bahkan kesamaan. Terdapat kode tanda yang diwariskan.
Berkenaan dengan ini, maka janganlah dianggap remeh ataupun dianggap tiada (ditiadakan) bagian kecil ini. Saat kita mengatakan "ah...ini kan tidak seberapa, masih ada hal yang besar yang perlu diperhatikan". Apalagi jika ditambah dengan pernyataan "hal ini akan mampu digantikan atau ditutupi dengan hal lain yang secara riil lebih bermanfaat".
Karena, jika kita memiliki pola pikir yang demikian, maka jangan kaget ataupun pusing saat kita menemui disorientasi pada beberapa hal yang ada di sekitar kita. Acuan dasar yang perlu diingat adalah semua yang ada ini secara unititas terkait satu dengan hal lainnya. Bukan terkait dengan mata kepala, tapi keterkaitan ini hanya dapat kita tangkap dengan kejernihan pemikiran. Bahkan dalam kajian peradaban yang disampaikan oleh Emha Ainun Nadjib, terdapat istilah peradaban koneksitas.
Saat kita membiarkan hal kecil tumbuh bebas saja, dia (hal kecil) belum tentu akan berkembang sesuai dengan struktur yang sudah ada. Apalagi saat kita mengarahkan hal kecil kepada bentuk pelanggaran atau kerusakan, tentunya struktur yang disusun juga akan tak beraturan atau chaos. Analogi sederhana, saat kita menginginkan buah mangga, maka yang kita tanam adalah biji mangga bukan biji padi atau lainnya. Mustahil kita mendapat tanaman buah mangga jika yang kita semai adalah biji padi. Setelah biji mangga tumbuh, masih butuh perawatan & penjagaan agar dapat berbuah mangga. Saat dibiarkan, bisa jadi pertumbuhan bibit mangga akan mati atau merusak rumah kita, jika bibit mangga kita tanam dipekarangan rumah kita. Selain itu tanamlah bibit mangga yang baik, saat kita menanam bibit mangga yang asam, maka buah mangga yang kita dapat juga asam.
Saat kita merusak atau menciderai bagian terkecil, maka akan ada hal yang mengalami disorientasi.