Senin, 04 Februari 2013

Kemunculan Solusi



"Setiap solusi belum tentu menjadi solutif"

Sudah tidak menjadi pembahasan bahwa setiap orang memiliki masalah. Langkah yang sama, yakni mencari penyelesaian dari masalah tersebut. Inilah yang disebut sebagai solusi. Tapi tidak semua solusi yang ditentukan akan menyelesaikan masalah, bahkan tidak jarang ditemui bahwa solusi yang diajukan justru mendatangkan masalah baru.


Kamus Bahasa memberikan definisi solusi (so·lu·si) yaitu penyelesaian; pemecahan (masalah dsb); jalan keluar. Ia lahir sebagai sebuah reaksi dari kemunculan masalah. Sedangkan masalah adalah kondisi realita yang terjadi tidak sesuai dengan idealita/keinginan. Kemunculan masalah pun juga tidak dapat dilepaskan relasinya dengan kondisi, yang bersifat relatif. Konteks kejadian yang terjadi di alam tersusun dari pelbagai bentuk unitas yang hidup. Sedangkan prinsip dasar dari eksistensi wujud yang hidup itu ialah bergerak. Setiap gerakan yang terjadi pasti akan saling bersinggungan/bersentuhan. Singgungan/sentuhan antar unitas kehidupan inilah yang memicu terjadinya masalah. Dengan demikian maka masalah menjadi sebuah kondisi pesakitan yang tidak bisa, secara mutlaq, dicegah. Masalah menjadi konsekuensi dari gejala dalam kehidupan di alam.
Solusi juga menjadi hasil dari operasi dua atau lebih variabel yang bertemu. Variabel disini adalah satu sudut pandang terhadap realita yang masuk dalam kategori masalah. Semakin banyak variabel yang terlibat, maka akan berpengaruh pula terhadap eksistensi solusi itu. Dengan demikian, maka solusi menjadi sebuah hasil, bukan sebuah proses.
Karena solusi adalah sebuah hasil, maka solusi sungguh jauh berbeda, jika ada yang mengatakan solusi, sedangkan ia tidak mengandung analisis variabel dari realita yang terjadi. Dengan kata lain, untuk memunculkan solusi diperlukan analisa dari variabel realita yang terjadi. Dikatakan yang terjadi, berarti sifat variabel ini tidak abstrak ataupun hipotesis. Variabel ini sungguh terjadi.
Solusi hanya muncul dari kondisi yang rusak. Yakni realitas yang melenceng dari kehendak. Setiap orang, secara fitrah selalu menghendaki sebuah kebaikan. Bentuk kebaikan yang melenceng ini lah yang menjadi masalah bagi manusia. Sedangkan, jika kondisi stabil hanya akan memunculkan ide yang berbentuk rencana, bukan sebuah solusi.
Solusi juga mengandung pretensi. Maksudnya, kemunculan solusi bersifat represif terhadap kondisi yang melenceng tadi. Solusi selalu diarahkan untuk memberikan tekanan kepada variabel melenceng, yang mana akan diarahkan untuk mendukung kepada kehendak-kehendak yang dianggap menyenangkan oleh si empunya masalah. Sungguh ini adalah bentuk fitrah manusia yang selalu ingin kembali pada kebaikan, sedangkan kesenangan adalah sensasi rasa bagi manusia untuk menikmati arti kebaikan.
Karena solusi yang selalu mengarah kepada kesenangan dari setiap orang, maka saat operasi variabel tadi, akan menarik ego manusia untuk turut campur tangan. Padahal pandangan tentang ego, dari para penelaahnya, sungguh terlepas dari dimensi ruang dan waktu. Inilah yang perlu dibahas lebih lanjut. Sebuah relasi antara realita yang melenceng dengan sifat kesucian manusia.