"Setiap
solusi belum tentu menjadi solutif"
Sudah
tidak menjadi pembahasan bahwa setiap orang memiliki masalah. Langkah yang
sama, yakni mencari penyelesaian dari masalah tersebut. Inilah yang disebut
sebagai solusi. Tapi tidak semua solusi yang ditentukan akan menyelesaikan
masalah, bahkan tidak jarang ditemui bahwa solusi yang diajukan justru
mendatangkan masalah baru.
Kamus
Bahasa memberikan definisi solusi (so·lu·si)
yaitu penyelesaian; pemecahan (masalah dsb); jalan keluar. Ia lahir sebagai
sebuah reaksi dari kemunculan masalah. Sedangkan masalah adalah kondisi realita
yang terjadi tidak sesuai dengan idealita/keinginan. Kemunculan masalah pun
juga tidak dapat dilepaskan relasinya dengan kondisi, yang bersifat relatif.
Konteks kejadian yang terjadi di alam tersusun dari pelbagai bentuk unitas yang
hidup. Sedangkan prinsip dasar dari eksistensi wujud yang hidup itu ialah
bergerak. Setiap gerakan yang terjadi pasti akan saling
bersinggungan/bersentuhan. Singgungan/sentuhan antar unitas kehidupan inilah
yang memicu terjadinya masalah. Dengan demikian maka masalah menjadi sebuah
kondisi pesakitan yang tidak bisa, secara mutlaq, dicegah. Masalah menjadi
konsekuensi dari gejala dalam kehidupan di alam.
Solusi
juga menjadi hasil dari operasi dua atau lebih variabel yang bertemu. Variabel
disini adalah satu sudut pandang terhadap realita yang masuk dalam kategori
masalah. Semakin banyak variabel yang terlibat, maka akan berpengaruh pula
terhadap eksistensi solusi itu. Dengan demikian, maka solusi menjadi sebuah
hasil, bukan sebuah proses.
Karena
solusi adalah sebuah hasil, maka solusi sungguh jauh berbeda, jika ada yang
mengatakan solusi, sedangkan ia tidak mengandung analisis variabel dari realita
yang terjadi. Dengan kata lain, untuk memunculkan solusi diperlukan analisa
dari variabel realita yang terjadi. Dikatakan yang terjadi, berarti sifat
variabel ini tidak abstrak ataupun hipotesis. Variabel ini sungguh terjadi.
Solusi
hanya muncul dari kondisi yang rusak. Yakni realitas yang melenceng dari
kehendak. Setiap orang, secara fitrah selalu menghendaki sebuah kebaikan.
Bentuk kebaikan yang melenceng ini lah yang menjadi masalah bagi manusia. Sedangkan, jika kondisi
stabil hanya akan
memunculkan ide yang berbentuk rencana, bukan sebuah solusi.
Solusi
juga mengandung pretensi. Maksudnya, kemunculan solusi bersifat represif
terhadap kondisi yang melenceng tadi. Solusi selalu diarahkan untuk memberikan
tekanan kepada variabel melenceng, yang mana akan diarahkan untuk mendukung kepada
kehendak-kehendak yang dianggap menyenangkan oleh si empunya masalah. Sungguh ini
adalah bentuk fitrah manusia yang selalu ingin kembali pada kebaikan, sedangkan
kesenangan adalah sensasi rasa bagi manusia untuk menikmati arti kebaikan.
Karena solusi yang selalu mengarah
kepada kesenangan dari setiap orang, maka saat operasi variabel tadi, akan
menarik ego manusia untuk turut campur tangan. Padahal pandangan tentang ego,
dari para penelaahnya, sungguh terlepas dari dimensi ruang dan waktu. Inilah
yang perlu dibahas lebih lanjut. Sebuah relasi antara realita yang melenceng
dengan sifat kesucian manusia.