"Hanya hari ini, bukan besok atau pun kemarin."
Kata-kata di atas membawa kita pada konteks pembahasan waktu. Peristiwa yang terjadi saat ini sangat menentukan, sedangkan yang telah terjadi (disebut kemarin) tidak akan memiliki eksistensi pengaruh secara langsung. Kemarin akan menjadi memory (nostalgia) yang selanjutnya akan mengalami metamorfosis menjadi onggokan ilmu. Sedangkan peristiwa yang belum diketahui atau belum jelas (bukan abstrak) terjadi atau kejadiannya (disebut besok) adalah sebuah kegelapan yang bisa dijadikan sebagai sebuah harapan.
Sebagai sebuah rentetan dimensi, waktu bisa kita katakan sebagai sebuah rajutan-rajutan peristiwa. Sedangkan Kant memberikan bayangan tentang waktu, sebagai satu garis yang membentang dari masa depan tak terbatas (besok) dalam masa lalu tak terbatas (kemarin). Rentan fase antaranya juga saling berhimpitan. Begitu dekatnya himpitan ini menjadikan kita sulit untuk menemukan celah yang memisahkan setiap peristiwa, sehingga kita hanya mampu memandang kumpulan peristiwa tersebut sebagai sebuah kesatuan sistem (unititas). Jika pembahasan waktu dilepaskan dari konteks ruang tiga dimensi, maka waktu akan menjadi tempat tunggal, benar-benar tunggal.
Ouspensky (dalam bukunya "Tertium Organum") mengajak kita untuk memberikan arti tentang waktu, sebagai jarak yang memisahkan peristiwa sesuai dengan urutannya dan mengikat mereka dalam keseluruhan yang berberda. Jarak ini berada pada satu arah yang tidak terdapat dalam ruang tiga dimensi.
Waktu menjadi tempat bagi seluruh komponen materi. Materi-materi tersebut mampu eksis dalam dimensi waktu dan ruang.Karena eksistensi mereka inilah, melalui tanda dan pertanda materi tersebut lah kita dapat melakukan penghitungan waktu. Jika jam (sebagai alat penghitung waktu) yang ada berhenti semua, belum bisa dikatakan bahwa waktu berhenti. Ataupun jika bumi berhenti rotasi dan revolusi tepat pukul jam 12 siang, belum tentu juga waktu berhenti. Disinilah mengapa dikatakan waktu menjadi tempat tunggal, serta materi-materi menjadi tanda dan petanda dari waktu.
Kembali pada kata-kata di atas. Sudut pikir yang kita gunakan, adalah menempatkan waktu "sekarang" pada titik awal. Ini sungguh berbeda dibandingkan dengan penetapan awal penghitungan waktu kalender. Penghitungan kalender di kekaisaran Roma yang ditetapkan berdasarkan Berdirinya Kota
Roma, dikenal dengan sistem AU. Penghitungan kalender Masehi yang ditetapkan pada berdasarkan kelahiran Kristus. Dan penghitungan kalender Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan pindahnya Nabi Muhammad ke Medinah.
Kata di atas menunjukkan bahwa yang memiliki relasi eksistensi materi dalam ruang (yang paling utama) adalah yang berkenaan dengan waktu sekarang (hari ini). Konteks sekarang juga memiliki ruang yang bisa semakin menekan, yakni semakin kuat kita menarik jarak waktu (antara kemarin dan besok) maka semakin kecil konteks relasi materi. Jika digunakan hari untuk waktu sekarang maka durasinya adalah jam, jika yang digunakan jam maka durasinya adalah menit, dan begitu seterusnya.
Kenapa digunakan waktu sekarang? Ini berkenaan dengan setiap materi, terkhususnya manusia, harus mampu menunjukkan eksistensi atas wujudnya dalam waktu sekarang. Jika tidak maka, dia akan menjadi mitos pada waktu besok. Serta akan menjadi puing prasasti dari masa kemarin pada waktu hari ini.