Hari
Kemarin Lebih Baik Daripada Hari Ini,
Dan
Hari
Esok Akan Lebih Buruk Daripada Hari Ini,
Waktu merupakan bentuk dimensi yang
menjadi kesatuan membatasi manusia. Seluruh realitas akan terhubung langsung
oleh waktu.
Tahun, hari, jam, hingga detik dikatakan sebagai sebuah kesatuan
waktu. Kesatuan waktu membantu manusia dalam menejemen aktifitasnya. Waktu juga
sering digunakan dalam pembahasan pengetahuan empiris, membincang mengenai
peristiwa yang telah lampau. Bahkan rentetan waktu akan mencatat akan perdaban
secara kausalitas. Penjelasan yang diberikan oleh waktu tidak akan pernah
terwakili, baik textbook maupun dongeng-dongeng para pelakunya. Waktu bersifat
tanpa batas, prosesnya terkesan seakan-akan terus berputar tanpa henti. Akan
tetapi jika kita kupas ulang, waktu tak akan pernah terulang, ia lebih bagaikan
sebagai sebuah rentetan garis yang tersusun atas titik yang menempel rapat.
Melaju terus tanpa henti, tanpa jeda, dan masa bodoh akan apa yang terjadi.
Waktu disebut sebagai sebuah dimensi,
sehingga waktu dapat diukur. Sebagai pembandingnya, akan digunakan gejala alam.
rotasi bumi, revolusi bumi terhadap matahari, dan revolusi bulan terhadap bumi
dijadikan sebagai sebuah acuan dasar. Penentuan ini tidak sertamerta disepakati
sebagai acuan waktu. Penghitungan waktu masehi didasarkan pada pergerakan
matahari. Pemerintahan Romawi Kuno yang telah memulai rentetan
penanggalan-penanggalan. Bermula dari 10 bulan, 12 bulan, hingga pencapaian
dalam 1 tahun sama dengan kurang dari 366 hari. Selain itu, penghitungan waktu
juga dilakukan berdasarkan pergerakan bulan terhadap bumi. Penetapan ini
dilakukan pada masa pimpinan negara di Arab, Umar bin Khatab, tepatnya tahun
638 M yakni bertepatan pada saat Muhammad SAW melakukan perpindahan menuju
medinah. Sedangkan mengenai penentuan hari masih tiada perubahan yakni 7 hari.
Catatan kecil, bahwa dalam penghitungan bulan mengalami ukuran yang lebih
cepat, karena sirkuit lintasan dan kecepatannya yang berbeda.
Kita telah menyepakati, bahwa waktu
dapat diklasifikasikan, pertama waktu lampau, seluruh waktu yang telah
terlewati, kedua waktu sekarang, waktu yang tengah terjadi, dan ketiga waktu
esok, waktu yang belum pernah terjadi dan pasti akan terjadi. Meski demikian,
pembahasan dari ketiga waktu tersebut tidak dipisahkan. Mereka lebih merupakan
keberlanjutan yang nantinya akan menggeser masing-masing posisi. Itu semua
hanya dalam konteks pembahasan, bagaimana manusia menempatkan sentra
pembahasannya. Waktu sekarang akan menjadi menjadi waktu masa depan, jika
sentra pembahasan waktu sekarang adalah waktu sebelum saat ini. Waktu sekarang
akan menjadi masa lampau, jika sentra pembahasan waktu sekarang adalah waktu
yang belum belum terjadi. Itu semua berkenaan dengan penempatan waktu sekarang.
Pada hakekatnya tetaplah ketiga waktu tersebut mewakili setiap kejadiannya.
Selain ketiga waktu yang tersebut di
atas, juga dapat dijumpai jenis waktu lain. Awal dan akhir. Awal menempatkan
diri sebagai keberawalan yang tanpa didahului oleh keberadaan yang lain.
Keberadaan awal memang telah ada, tidak diawali. Dengan kata lain, awal
merupakan bentuk ada itu sendiri. Segala yang ada itu diawali dan awal itu
bukan ketiadaan. Mustahil kita mengatakan awal itu merupakan wujud dari
keberadaan atau keberadaan itu bersumber dari sesuatu yang awal. Antara awal
dan ada merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan.
Kemudian, segala bentuk yang telah
berawal akan menuju pada akhir. Antara awal dan akhir merupakan bentuk
ketunggalan. Maksudnya awal bukan bentuk yang beda dengan akhir. Mustahil
dikatakan bahwa keberakhiran tidak didahului keberawalan. Dan mustahil pula
jika dikatakan awal itu tidak berakhir. Karena itu wujud antara awal itu adalah
akhir, seluruh akhir itu pasti adalah awal. Wujud awal tidak akan pernah
berubah, tidak terpengaruh oleh sebab sehingga saat sampai akhir ia akan
sebagai wujud yang sama. Menurut Murtadha Muttahari, hal ini dikatakan sebagai
sebuah fitrah. Meski demikian, antara awal dan akhir bukan sebagai sebuah
proses yang terus berulang, siklus.
Meski dalam wujud antara awal dan akhir
itu tiada beda, akan tetapi antara awal dan akhir memiliki rentang yang cukup panjang.
Susunan rentang ini memiliki sifat derivasi. Berkas yang dihasilkan dalam
rentang dapat dirasakan. Misalnya, daun yang berwarna hijau tidak seluruhnya
disebabkan oleh zat warna hijau daun. Ini menempatkan antara awal dan akhir
pada kondisi yang berbeda. Kondisi inilah yang dalam kehidupan macrocosmos dan
microcosmos sering disebut dengan waktu. Sehingga untuk menjelaskan waktu awal
dan waktu akhir merupakan dua tititk saling terhubung yang direntangkan begitu
panjang. Waktu awal bukan awal atas suatu proses. Akan tetapi waktu awal sudah
termasuk dalam proses. Keberadaanya sangat lekat dengan keberadaan. Demikianlah
kesatuan awal dan ada diistilahkan dengan kausa prima.
Seluruh pemahaman diatas, akan
melibatkan seluruh waktu yang ada. Semenjak keberadaan sampai tidak hingga akan
tersertai. Dalam konteks ini, saya lebih merasa cocok jika dikatakan akhir
sebagai bentuk selesai. Setelah akhir maka sudah tiada sesuatu, termasuk ada
itu sendiri. Jika setelah akhir itu masih ada, maka itu sebenarnya tidak akhir
tetapi masih dalam koridor rentang antara awal dan akhir. Analoginya, saat kita
menentukan ujung langit. Kita dapat menunjuk langit dengan jari telunjuk, akan
tetapi ujungnya tiada tampak. Kata orang bijak ”di atas langit, masih ada langit.” Sedikit koreksi akan kata-kata
ini. Maksud “di atas langit” menunjukkan
perbandingan tinggi. Langit yang didefinisikan sebagai sesuatu yang paling tinggi,
ternyata masih ada sesuatu. Ini belum dapat dikatakan sebagai akhir dari
ketinggiannya tinggi, paling tinggi. Tetapi ketinggiannya tinggi masih dalam
jarak mencapai ketinggian pada sebenarnya. Baru pada kata “masih ada langit” kita diberitahu bahwa yang ketinggiannya tinggi
itu adalah langit juga namanya. Sehingga akhir dari tingginya langit itu adalah
langit.
Mengenai sajak yang tertulis dalam awal
tulisan ini, maka dapat dipahami bahwa waktu yang menjaddi sentra pembahasan
waktunya adalah waktu sekarang. Secara tekstual keterangan akan waktu sekarang
(hari ini) telah berada dalam dua kalimat,
“Hari Kemarin Lebih Baik Daripada Hari Ini” dan “Hari Esok Akan Lebih Buruk Daripada Hari Ini.” Karena kalimat “Hari Kemarin Lebih Baik Daripada Hari Ini” berarti
menunjukkan hari setelah hari kemarin, yakni hari ini. Dan kalimat “Hari Esok Akan Lebih Buruk Daripada Hari
Ini” juga menunjukkan hari sebelum hari esok, yakni hari ini. Demikianlah
pemahaman akan waktu yang pada eksistensinya bukan hari kemarin atau hari esok,
tapi hari ini. Melakukan sesuatu hanya sekarang waktunya, tidak perlu banyak
menunggu atau mengenang waktu yang telah lewat. Melakukan sesuatu harus secara
totalitas dan penuh konsekuensi, tentunya kita tidak ingin hari ini lebih buruk
dibandingkan hari kemarin. Tentunya hasil yang kita peroleh tidak berada pada
kapasitas standart, tapi kapasitas optimal. Jika hari kemaren mendapat hasil
yang lebih baik, maka tentunya hari ini akan menjadi lebih dan lebih baik lagi.
Selain itu kalimat kedua, merupakan peringatan biar tidak lengah dalam setiap
peluang. Sehingga akan muncuk pelbagai kreatifitas agar ramalan hari esok
terjadi. Adapun ramalan esok terjadi, maka kita sudah menyiapkan diri dari
hasil yang tidak hanya lebih, tetapi sebuah gudang persiapan yang lebih dan
lebih baik.
Makasih.