Jumat, 10 Februari 2012

HANYA HARI INI, TIADA LAIN


Hari Kemarin Lebih Baik Daripada Hari Ini,
Dan
Hari Esok Akan Lebih Buruk Daripada Hari Ini,

Waktu merupakan bentuk dimensi yang menjadi kesatuan membatasi manusia. Seluruh realitas akan terhubung langsung oleh waktu.
Tahun, hari, jam, hingga detik dikatakan sebagai sebuah kesatuan waktu. Kesatuan waktu membantu manusia dalam menejemen aktifitasnya. Waktu juga sering digunakan dalam pembahasan pengetahuan empiris, membincang mengenai peristiwa yang telah lampau. Bahkan rentetan waktu akan mencatat akan perdaban secara kausalitas. Penjelasan yang diberikan oleh waktu tidak akan pernah terwakili, baik textbook maupun dongeng-dongeng para pelakunya. Waktu bersifat tanpa batas, prosesnya terkesan seakan-akan terus berputar tanpa henti. Akan tetapi jika kita kupas ulang, waktu tak akan pernah terulang, ia lebih bagaikan sebagai sebuah rentetan garis yang tersusun atas titik yang menempel rapat. Melaju terus tanpa henti, tanpa jeda, dan masa bodoh akan apa yang terjadi.

Waktu disebut sebagai sebuah dimensi, sehingga waktu dapat diukur. Sebagai pembandingnya, akan digunakan gejala alam. rotasi bumi, revolusi bumi terhadap matahari, dan revolusi bulan terhadap bumi dijadikan sebagai sebuah acuan dasar. Penentuan ini tidak sertamerta disepakati sebagai acuan waktu. Penghitungan waktu masehi didasarkan pada pergerakan matahari. Pemerintahan Romawi Kuno yang telah memulai rentetan penanggalan-penanggalan. Bermula dari 10 bulan, 12 bulan, hingga pencapaian dalam 1 tahun sama dengan kurang dari 366 hari. Selain itu, penghitungan waktu juga dilakukan berdasarkan pergerakan bulan terhadap bumi. Penetapan ini dilakukan pada masa pimpinan negara di Arab, Umar bin Khatab, tepatnya tahun 638 M yakni bertepatan pada saat Muhammad SAW melakukan perpindahan menuju medinah. Sedangkan mengenai penentuan hari masih tiada perubahan yakni 7 hari. Catatan kecil, bahwa dalam penghitungan bulan mengalami ukuran yang lebih cepat, karena sirkuit lintasan dan kecepatannya yang berbeda.

Kita telah menyepakati, bahwa waktu dapat diklasifikasikan, pertama waktu lampau, seluruh waktu yang telah terlewati, kedua waktu sekarang, waktu yang tengah terjadi, dan ketiga waktu esok, waktu yang belum pernah terjadi dan pasti akan terjadi. Meski demikian, pembahasan dari ketiga waktu tersebut tidak dipisahkan. Mereka lebih merupakan keberlanjutan yang nantinya akan menggeser masing-masing posisi. Itu semua hanya dalam konteks pembahasan, bagaimana manusia menempatkan sentra pembahasannya. Waktu sekarang akan menjadi menjadi waktu masa depan, jika sentra pembahasan waktu sekarang adalah waktu sebelum saat ini. Waktu sekarang akan menjadi masa lampau, jika sentra pembahasan waktu sekarang adalah waktu yang belum belum terjadi. Itu semua berkenaan dengan penempatan waktu sekarang. Pada hakekatnya tetaplah ketiga waktu tersebut mewakili setiap kejadiannya.

Selain ketiga waktu yang tersebut di atas, juga dapat dijumpai jenis waktu lain. Awal dan akhir. Awal menempatkan diri sebagai keberawalan yang tanpa didahului oleh keberadaan yang lain. Keberadaan awal memang telah ada, tidak diawali. Dengan kata lain, awal merupakan bentuk ada itu sendiri. Segala yang ada itu diawali dan awal itu bukan ketiadaan. Mustahil kita mengatakan awal itu merupakan wujud dari keberadaan atau keberadaan itu bersumber dari sesuatu yang awal. Antara awal dan ada merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan.

Kemudian, segala bentuk yang telah berawal akan menuju pada akhir. Antara awal dan akhir merupakan bentuk ketunggalan. Maksudnya awal bukan bentuk yang beda dengan akhir. Mustahil dikatakan bahwa keberakhiran tidak didahului keberawalan. Dan mustahil pula jika dikatakan awal itu tidak berakhir. Karena itu wujud antara awal itu adalah akhir, seluruh akhir itu pasti adalah awal. Wujud awal tidak akan pernah berubah, tidak terpengaruh oleh sebab sehingga saat sampai akhir ia akan sebagai wujud yang sama. Menurut Murtadha Muttahari, hal ini dikatakan sebagai sebuah fitrah. Meski demikian, antara awal dan akhir bukan sebagai sebuah proses yang terus berulang, siklus.

Meski dalam wujud antara awal dan akhir itu tiada beda, akan tetapi antara awal dan akhir memiliki rentang yang cukup panjang. Susunan rentang ini memiliki sifat derivasi. Berkas yang dihasilkan dalam rentang dapat dirasakan. Misalnya, daun yang berwarna hijau tidak seluruhnya disebabkan oleh zat warna hijau daun. Ini menempatkan antara awal dan akhir pada kondisi yang berbeda. Kondisi inilah yang dalam kehidupan macrocosmos dan microcosmos sering disebut dengan waktu. Sehingga untuk menjelaskan waktu awal dan waktu akhir merupakan dua tititk saling terhubung yang direntangkan begitu panjang. Waktu awal bukan awal atas suatu proses. Akan tetapi waktu awal sudah termasuk dalam proses. Keberadaanya sangat lekat dengan keberadaan. Demikianlah kesatuan awal dan ada diistilahkan dengan kausa prima.

Seluruh pemahaman diatas, akan melibatkan seluruh waktu yang ada. Semenjak keberadaan sampai tidak hingga akan tersertai. Dalam konteks ini, saya lebih merasa cocok jika dikatakan akhir sebagai bentuk selesai. Setelah akhir maka sudah tiada sesuatu, termasuk ada itu sendiri. Jika setelah akhir itu masih ada, maka itu sebenarnya tidak akhir tetapi masih dalam koridor rentang antara awal dan akhir. Analoginya, saat kita menentukan ujung langit. Kita dapat menunjuk langit dengan jari telunjuk, akan tetapi ujungnya tiada tampak. Kata orang bijak ”di atas langit, masih ada langit.” Sedikit koreksi akan kata-kata ini. Maksud “di atas langit” menunjukkan perbandingan tinggi. Langit yang didefinisikan sebagai sesuatu yang paling tinggi, ternyata masih ada sesuatu. Ini belum dapat dikatakan sebagai akhir dari ketinggiannya tinggi, paling tinggi. Tetapi ketinggiannya tinggi masih dalam jarak mencapai ketinggian pada sebenarnya. Baru pada kata “masih ada langit” kita diberitahu bahwa yang ketinggiannya tinggi itu adalah langit juga namanya. Sehingga akhir dari tingginya langit itu adalah langit.

Mengenai sajak yang tertulis dalam awal tulisan ini, maka dapat dipahami bahwa waktu yang menjaddi sentra pembahasan waktunya adalah waktu sekarang. Secara tekstual keterangan akan waktu sekarang (hari ini) telah berada dalam dua kalimat, “Hari Kemarin Lebih Baik Daripada Hari Ini” dan “Hari Esok Akan Lebih Buruk Daripada Hari Ini.” Karena kalimat “Hari Kemarin Lebih Baik Daripada Hari Ini” berarti menunjukkan hari setelah hari kemarin, yakni hari ini. Dan kalimat “Hari Esok Akan Lebih Buruk Daripada Hari Ini” juga menunjukkan hari sebelum hari esok, yakni hari ini. Demikianlah pemahaman akan waktu yang pada eksistensinya bukan hari kemarin atau hari esok, tapi hari ini. Melakukan sesuatu hanya sekarang waktunya, tidak perlu banyak menunggu atau mengenang waktu yang telah lewat. Melakukan sesuatu harus secara totalitas dan penuh konsekuensi, tentunya kita tidak ingin hari ini lebih buruk dibandingkan hari kemarin. Tentunya hasil yang kita peroleh tidak berada pada kapasitas standart, tapi kapasitas optimal. Jika hari kemaren mendapat hasil yang lebih baik, maka tentunya hari ini akan menjadi lebih dan lebih baik lagi. Selain itu kalimat kedua, merupakan peringatan biar tidak lengah dalam setiap peluang. Sehingga akan muncuk pelbagai kreatifitas agar ramalan hari esok terjadi. Adapun ramalan esok terjadi, maka kita sudah menyiapkan diri dari hasil yang tidak hanya lebih, tetapi sebuah gudang persiapan yang lebih dan lebih baik.

Makasih.