Senin, 24 Oktober 2011

Pengetahuan dan Bentuk Realitasnya

oleh : M. Ali Shoim, S.Pd
Kausalitas kehidupan alam semesta merupakan bentuk keseimbangan energi. Manusia ditempatkan dalam posisi sentral sebagai komponen yang mampu berfikir untuk rekayasa dalam prosesinya menjaga stabilitas keseimbangan energi.
Alam beserta isinya merupakan anugerah terbesar yang dimiliki manusia. Potensi manusia untuk mengumpulkan seluruh pengetahuan sangat ditentukan oleh bagaimana manusia mendapatkan ilmu sebagai representasi pengetahuan itu sendiri. Pencarian tanpa tepi, dapat dimulai dari keberadaan alam ini dahulu atau sifat dari keberadaannya. Alam semesta telah ada sebelum pengetahuan itu terbentuk, perubahan kondisi alam yang membawa manusia berproses untuk
memahami kejadian. Bisa jadi, para nelayan yang berangkat melaut pada malam hari, telah memahami gejala alam yang terjadi. Pola pencarian ikan secara tradisional bukanlah tradisi atau budaya yang hanya mengandalkan metafisik, akan tetapi secara pemahaman lokal telah mampu dipahami melalui pengetahuan-pengetahuan yang tidak sederhana. Model pengetahuan semacam ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana rekam memori dan perjalanan sejarah yang telah ditangkap panca indera mengenai keberadaan.

Desakralisasi pengetahuan dalam budaya
Penalaran manusia pada hakekatnya akan terus melampaui batas materi yang ada di dunia. Jika dikatakan metafisika sebagai bentuk hakekat tertinggi yang tidak terlepas dari materi penerimanya, maka pengetahuan dapat dikatakan demikian. Pola pemikiran (akan kita bahas dalam tulisan ini) lebih mengarah pada dikotomisasi pengetahuan sebagai wujud yang dipahami. Hal yang membuat pertanyaan membingungkan, biasanya mengenai “apakah pengetahuan itu ada dalam pikiran manusia ?” atau “apakah pengetahuan itu sudah ada sebelum keberadaan manusia ?” Beberapa kelemahan penalaran seperti ini adalah ia harus menemukan bentuk antitesis dari pernyataan-pernyataan sebelumnya. Dari hubungan tesis dan antitesis ini akan didapatkan sebuah simpulan (silogisme) dalam pelbagai bentuk hubungannya (komparasi, eliminasi, deduktif, dll). Sehingga simpulan yang kita ambil, seluruhnya bergantung pada premis yang diajukan. Penentuan hubungan yang salah akan memberikan simpulan yang salah pula.
Bentuk pasangan premis yang tidak ditemukan, akan mempersulit dalam membuat simpulan. Hal ini dapat memberikan multitafsir dalam menentukan makna kebenaran dari pengetahuan. Berawal dari penentuan kesepakatan akan kebenaran premis yang diajukan, kemudian diperumit lagi dengan pengambilan keputusan. Lebih menjadi masalah lagi, saat akal tidak mampu menemukan penalaran akan antitaksis. Kondisi demikian akan berakibat fatal, yakni simpulan tidak akan didapatkan.
Arogansi pemikiran manusia dalam menemukan teori/hukum pengetahuan adalah sering memaksakan pendapatnya (hipotesis) untuk diterima secara luas. Sifat lahiriyah manusia untuk menunjukkan akan keberadaan dirinya (eksistensialisme) menjadi awal arogansi ini. Dampak lain dari sifat ini adalah saling menghilangkan pendapat orang lain dan menetapkan bahwa pendapat yang paling benar adalah pendapatnya. Sering manusia membuat pemahaman dalam diri bahwa pengetahuan yang ada di alam semesta baik yang sudah diketahui -ada- atau belum -ada- seluruhnya terpusat pada pemikirannya. Inilah yang melatar belakangi pembentukan rekayasa sosial.
Pemisahan pemahaman akan makna keseluruhan pengetahuan saat ini kita jumpai.  Maksudnya disini adalah manusia dalam mempelajari abdi ilmu tertentu tidak mau memahami pengetahuan diluar ilmu tersebut, cenderungnya alasan yang diutarakan agar dalam memahami pengetahuan dapat dikonsentrasikan secara tuntas. Misalnya, orang yang mempelajari pengetahuan naturalistic, seperti Biologi, fisika, matematia, dll selalu berkutak pada pengetahuan yang bersifat teoritis dan praktis. Kaum ini tidak memahami pengetahuan lain, seperti sastra, sejarah, social, dll. Selain itu kaum ini juga hanya melakukan pembahasan pada hal yang bersifat realistis secara logis dapat diterima melalui penarikan-penarikan simpulan. Hal ini menjadi pemahaman seperti garis lurus, padahal pengetahuan itu dapat membuat gambar akan ketahuannya.
Kritik akan nilai-nilai budaya atau tradisi yang berkembang di masyarakat ikut menjadi imbas dari pemahaman pengetahuan saat ini. Proses rasionalisasi dan kemudian akan meragukan kebenaran nilai-nilai budaya. Perlu diketahui bahwa, nilai-nilai budaya yang berkembang di masyarakat bukan berdasarkan cerita kosong seorang kakek kepada anak cucunya. Nilai-nilai budaya merupakan gabungan dari keseluruhan proses pengetahuan yang telah teraplikasikan pada masanya. Kondisi lingkungan yang selalu berubah akan membawa manusia untuk terus bertahan hidup. Tanda-tanda kehidupan alam seakan-akan telah menyatu dengan kehidupan masyrakat. Konsep ini secara sederhana merupakan langkah pencapaian keseimbangan (homeostatis) hubungan seluruh komponen alam semesta. Pemahaman akan seluruh kejadian yang diwujudkan dalam bentuk tindakan ini membawa manusia mengetahui bagaimana cara bertahan hidup dan menjaga stabilitas kehidupan, tidak hanya sesama manusia. Dasar pemahaman inilah yang merupakan bentuk pengetahuan masyarakat yang terkandung dalam nilai-nilai budaya. Kita tidak bisa melihat nilai-nilai budaya hanya dari penampakan fisiknya saja. Perrwujudan nilai-nilai pengetahuan yang kita saksikan sebagai budaya, sangat kontras dengan pengetahuan diperoleh dari proses berfikir.
Kata budaya berasal dari bahasa sanskerta, berawal dari kata buddhi (budi atau akal) yang berarti berhubungan dengan akal manusia yang dipersepsikan dalam sikap-sikap. Padanan kata ini dapat berupa tradisi atau kultur. Kulture, demikian dalam bahasa inggris, berasal dari bahasa latin colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Ki Hajar Dewantara memberikan definisi kebudayaan sebagai hasil perjuangan hidup, yakni perjuangan terhadap kekuatan yang kuat dan abadi, yaitu alam dan zaman. Kebudayaan pernah mempunyai bentuk abadi, tetapi terus menerus berganti dengan bergantinya alam dan zaman. Pemahan ini secara garis besar hampir sama diutarakan oleh para ahli.
Melalui pemahaman ini, ditafsirkan bahwa budaya mengandung sebuah nilai-nilai melibatkan olah antara akal dan proses berfikir dengan diselimuti dimensi ruang (panjang dan lebar) dan waktu, akan menghasilkan sebuah tatanan nilai yang dalam masyarakat dianggap sebagai sebuah keyakinan atau hukum. Tatanan nilai ini, oleh Koentjaraningrat diartikan sebagai produk manusia, yaitu :
1.    kompleks dari ide, gagasan, nilai, norma, peraturan;
2.    kompleks aktivitas serta tindakan berpola manusia dalam masyarakat;
3.    wujud kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia.
Pemahaman ini dirasa kurang lengkap. Jika budaya dikatakan demikian maka budaya merupakan derivasi dari pengetahuan, maka budaya mengandung hakekat dari pengetahuan itu sendiri. Budaya tidak hanya dijelaskan melalui sandi-sandi atau gerak. Ada sebuah nilai dalam komuitas kearifan masyrakat yang termuat. Kearifan ini hanya mampu dirasa -bukan oleh alat indera fisik- tetapi secara kausalitas berada dalam selimut hubungan antar anggota masyarkat, tidak terkecuali hubungan dengan lingkungan sebagai satuan kehidupan.

Pencarian akal dalam menemukan pengetahuan
Proses pencarian untuk memperoleh ilmu, bagi sebagian besar manusia sering dipengaruhi bagaimana pengetahuan itu dapat diterima atau bersifat logis. Seorang dosen yang memberikan pengetahuan kepada mahasiswa, akan terjadi dialektika saat dosen secara penyampaian kurang mampu dipahami -selain penyampaian data- secara logis oleh mahasiswa (pendengar). Proses berfikir dan memahami yang konsekuensi logis atas pengajuan hipotesis semacam ini, dalam bidang filsafat disebut dengan epistemologis.
Proses berfikir macam ini mengajak para pengiikutnya untuk aktif dalam mengajukan pertanyaan dan pengumpulan-pengumpulan pernyataan guna mendapatkan pemahaman akan kebenaran suatu pengetahuan. Rasionalitas melibatkan penerimaan akal yang dipatik awal oleh pengalaman personal. Pengetahuan pertama terbentuk atas kolaborasi dari pelbagai pengalaman. Meski demikian, Kant memberikan kritik akan pemahaman rasionalitas. Ia memberikan tanggapan mengenai pengalaman dikategorikan dan disusun secara sistematis sehingga penampakan akan muncul sebagai kehendak (pengetahuan tentang gejala).
Dunia akademisi perguruan tinggi lebih sering menggunakan pola metode ilmiahi lebih sering menggunakan pola metode ilmiah dalam penyampaian pengetahuan-pengetahuan. Metode ilmiah dapat berupa makalah, artikel, laporan penelitian, tugas akhir,  skripsi, dan lain-lain. Sistematika penyusunannya telah diatur dan penggunaannya juga sisesuaikan dengan isi yang ingin disampaikan. Secara mendasar, metode ilmiah harus dilengkapi dengan hipotesa yang akan menjadi hukum berdasarkan pengalaman dan penalaran akal. Tahapan metode ilmiah meliputi pencarian masalah realitas. Perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengujian hipotesis, pengolahan dan pembahasan, dan simpulan. Simpulan dapat menjadi hipotesis kembali saat tidak sesuai dengan harapan, akan tetapi jika hasil pencapaian simpulan telah sesuai maka layak digunakan sebagai hukum.
Pencarian pengetahuan selain menggunakan proses di atas, pengetahuan juga bisa didapatkan tanpa melalui proses apapun. Bisa dikatakan bahwa pengetahuan macam ini sering disebut intuisionisme. Intuisi ialah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Pengetahuan ini tidak dapat dapat diberiktahuan secara lengkap oleh simbol-simbol apapun.

Pengetahuan, bentuk ketahuan
Mengenai pemahaman akan hakekat manusia memperoleh pengetahuan dalam filsafat ilmu memandang bahwa bentuk ketahuan ditandai dengan objek ontologis (mengenai kenyataan terdalam), landasan epistemologis (makna dan kebenaran) dan landasan aksiologis (nilai dan yang baik). Sedangkan dalam pemahaman lain, kita dapat istilah bayan (telas jelas pengatahuan), irfan (proses berfikir), dan burhan (keterangan). Bagi hemat saya, kita jangan sampai terpusingkan oleh pelbagai istilah-istilah bahasa yang digunakan. Akan tetapi, bagaimana proses yang kita pilih untuk mendapatkan pengetahuan sesuai dengan kebutuhan kita, adalah faktor utama ilmu itu tidak hanya diperoleh atau ditemukan bahkan akan dapat terus berkembang lengkap dengan variasi-variasinya.
Syaikh muhammad membagi ilmu menjadi dua, yakni pengetahuan tentang sesuatu yang bisa diketahui secara naluri, tanpa meneliti (berfikir) dan melakukan pengambilan referensi lain. Contohnya, pengetahuan bahwa api itu panas. Pengetahuan yang kedua adalah bentuk pengetahuan yang memerlukan penelitian (berfikir) dan melakukan pengambilan referensi lain. Contohnya, ilmu tentang penyembuhan penyakit kanker.
Al Ghazali menyebut pengetahuan sebagai hasil dari akal. Hakikat akal merupakan sifat yang membedakan antara manusia dan hewan. Akal digunakan untuk mengetahui hal yang memerlukan proses berfikir. Akal merupakan sifat  sejak lahir sudah dimiliki oleh tiap manusia. Akal juga merupakan sebuah pengatahuan yang diwujudkan dalam penampakan di alam riil. Pengetahuan yang diterima akal merupakan hasil endapan pengalaman diri berkaitan dengan inderawi. Dalam pengelolaan pengetahuan, setiap manusia harus mengetahui akibat pengetahuan. akibat ini bersifat dampak negatif. Sehingga permasalahan kesenjangan dapat diminimalkan atau dihindari. Caranya adalah mencegah nafsu atau keinginan yang hanya bersifat menguntungkan secara pribadi dan menundukkan sifat-sifat yang berpotensi materi saja.
Proses pencarian ilmu, bagi tiap individu sangatlah wajib. Hal ini dilihat akan kebutuhan manusia untuk mencapai homeostasis kebahagiaan. Ibnu Athoillah memberikan julukan “murid” kepada siapapun yang sedang bersungguh-sungguh mencari ilmu. Sedangkan, Syaikh Muhammad memberikan klasifikasi tingkatan orang berpengetahuan, meliputi enam hal :
1.    Tingkat mengetahui sesuatu sesuai kenyataannya dengan tingkat pengetahuan yang pasti.
2.    Tingkat kebodohan yang ringan, yakni tidak memiliki pengetahuan sama sekali.
3.    Tingkat kebodohan yang berat, yakni megetahui sesuatu namun pengetahuaanya itu berlawanan dengan kenyataan.
4.    Tingkat paham, yakni mengetahui sesuatu disertai kemungkinan pemahaman yang tidak kuat kebenarannya.
5.    Tingkat ragu, yakni mengetahui sesuatu disertai dengan kemungkinan yang sama kuat antara pemahaman yang benar kuat dengan yang salah.
6.    Tingkat mengatahui sesuatu disertai kemungkinan pemahaman yang kuat kebenarannya.
Dengan demikian awal ketahuan manusia merupakan awal dari ketidakpahaman juga. Proses verifikasi terus dikembangkan manusia untuk menyempurnakan pengetahuaannya, atau jika dikatakan untuk memenuhi keserakahan akan ketidaktahuaannya. Pada awalnya manusia mempertanyakan apakah benda yang bersinar terang di atas bumi yang setiap hari muncul dari arah timur dan hilang di arah berlawanan, opini pengetahuan berjatuhan untuk memberikan penjelasan secara tuntas akan hal ini. Satu jawaban yang rasional ataupun logis akan berusaha disanggah, atau lebih tepatnya dipertanyakan kebenarannya. Sedangkan dalam pemahaman rasionalitas akan kebenaran sangat tergantung pada masing-masing individu dalam menjabarkan opininya berdasarkan pengetahuaannya. Seiiring dengan berjalannya waktu, mempelajari benda yang bersinar tadi -dalam pemahan sekarang disebut matahari- sampai saat ini belum berhenti, meski teori-teori pengetahuan sudah sangat banyak dan kompleks. Para ahli terus mempelajarinya dalam diskusi-diskusi di bangku akademis, hingga laboratorium yang sangat luar biasa alat yang digunakan -karena alat tersebut masih awam bagi pemahaman masyarakat pada umumnya-

Belajar; proses mencari pengetahuan
Internalisasi proses pengetahuan dalam diri yang terjadi dalam kehidupan manusia disebut dengan belajar. Ini bersesuaian dengan pemahaman para ahli, seperti Skinner, Gagne, Piaget, dan Rogers dalam mendefinisikan proses belajar dalam diri seseorang. Sedikit menguitip konsep belajar yang dismpaikan Gagne, belajar merupakan interaksi antara keadaan internal seseorang berikut proses kognitifnya dengan stimulus lingkungan. Proses tersebut akan menentukan hasil belajar, hasil belajar tersebut meliputi informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif.
Informasi verbal digunakan untuk komunikasi pengetahuan dalam bentuk bahasa, lisan ataupun tulis kaitannya dengan pendengar atau pihak kedua. Keterampilan intelektual akan membantu manusia untuk mempresentasikan konsep pemikiran akan ketahuan dan ide-idenya. Konsep ini dirasa sangat penting bagi diri untuk mempengaruhi lingkungan. Pemahaman yang diberikan bersifat sistematis berdasarkan penalaran yang matang. Keterampilan motorik berhubungan erat dengan optimalisasi serangkaian alat gerak tubuh yang dikendalikan oleh keinginan. Kemunculan sikap merupakan bentuk respon atas penilaian obyek yang diterima. Respon ini akan disalurkan melalui penyampaian strategi kognitif, meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.

Melepas tubuh untuk mengetahui
Tahapan seorang “murid” memahami ilmu akan membawa penalaran pikir untuk lebih kepada pengetahuan yang bersifat sangat kompleks. Psikologi perkembangan yang diutarakan Piaget, memberikan klasifikasi akan kemampuan intelektual dalam tiap perkembangannya (0-2 tahun = Sensori ; 2-7 tahun = PraOperasional ; 7-11 tahun = operasional konkret ; 11 tahun – keatas = operasi formal). Secara pemahaman akan makna kemampuan orang memahami pengetahuan, hal ini 100% dikatakan tidak benar. Pandangan bahwa kemampuan akal menerima pengetahuan sangat dipengaruhi oleh batas umur, akan memberikan sebuah batasan dalam proses pembelajaran. Pengetahuan yang dirasa belum sesuai dengan penalaran orang sesuai dengan umur akan dibatasi bahkan jika hal ini keluar justru akan dianggap sebagai kelainan. Landasan ini yang menjadi dasar saat ini dalam melakukan kastanisasi dan dikotomi ilmu pengetahuan di jenjang pendidikan formal (satuan pendidikan). Pengembangan pengetahuan menggunakan dasara seperti di atas akan memberikan pemahaman bahwa yang dinamakan ilmu adalah yang bersifat rasional dan logis. Sehingga persepsi masyarakat sekarang yang dinamakan dengan pengetahuan adalah pelajaran yang hanya diberikan disetiap satuan pendidikan atau lembaga-lembaga bimbingan belajar, contoh Biologi, Fisika, Kimia, Sosiologi, Sejarah, Akutansi, sastra Arab, Teknik, dan lain-lainnya.
Pendidikan didefinisikan (oleh Paulo Freire) sebagai sebuah proses pembebasan dan humanisasi yang memandang kesadaran itu sebagai suatu hasrat terhadap dunia. Bentuk pendidikan pembebasan ini harus dilatari dengan “arkeologi kesadaran.” Melalui usaha personal, orang bisa menghidupkan kembali proses alamiah, dimana kesadaran timbul dari kemampuan mempersepsikan diri. Penalaran atas informasi yang diterima dan proses ketahuan diri tidak boleh dipisahkan. Perlu diingat (seperti diungkap di atas) bahwa pengetahuan juga dapat diperoleh tanpa melalui proses mengetahui (intuisi). Intuisi menempatkan jiwa sebagai wujud yang “riil”. Pengetahuan ini tidak diperlukan berapa umur, dimana sekolahnya, atau bagaimana tulisannya. Penggabungan antara pengetahuan apa yang tampak dengan kandungan pengetahuan akan membantu cara pandang intuisi ini sedikit dipahami.
Proses pencarian pengetahuan tidak dapat dibatasi oleh umur. Kita dapat melihat dalam permainan catur antara anak usia 10 tahun mampu mengalahkan orang yang lebih tua dalam permainan catur. Bahkan si anak ini mampu memenangkan kejuaraan catur tingkat dunia, sedangkan orang tua tadi dalam prestasinya hanya bisa sampai pada kejuaraan tingkat kelurahan, itupun prestasi paling tingginya adalah juara harapan.

“Tua karena Berilmu
Atau
Berilmu karena Tua”

Orang yang mengetahui atau memahami sebuah pengetahuan dikarenakan ia sering belajar dan mencari referensi dari buku, naskah, pendahulu, dan pengalamannya. Sehingga kemampuan memahami akan membawa pemikirannya setara dengan orang yang lebih tua (umurnya). Orang seperti ini menerima pengetahuan sebagai sebuah bentuk keyakinan.  Secara lahiriyah ia akan dipandang sebagai seorang yang teoritis. Akan tetapi setelah mengalami masa perenungan atau kontemplasi -bentuk pemunculan penyadaran diri- atas apa yang diketahuinya (sebagai keyakinan) dengan realita kejadian pengetahuan ini akan menjadi sebuah kebenaran. Orang ini akan aktif mencari pengetahuan dengan landasan keingintahuan. Meski demikian, model pengetahuan ini jika tidak dilandasi dengan sebuah kesadaran diri maka akan menimbulkan sifat sombong. Ia merasa akan merasa lebih pandai daripada teman bicaranya.
Selain itu, ada orang yang secara umur sudah tua mampu memahami pengetahuan karena telah mengalaminya sendiri. Pengetahuan ini biasanya bersifat historis (empiris) pribadi yang secara aplikatif telah dibuktikan. Sifat kebenarannya dapat ia ambil setelah melakukan apa yang menjadi pilihannya. Bisa dikatakan pengetahuan diperoleh dari pengalaman. Orang ini dalam proses pengetahuannya lebih pasif, ia memandang bahwa pengetahuan yang paling penting adalah saat ia membutuhkannya.

Mengikuti energy pengetahuan
Pencarian pengetahuan oleh manusia dalam kehidupannya layaknya siklus carbon di udara. Karbon yang dalam pelajaran kimia diberi simbol ‘C’ ini menyusun tubuh manusia dalam jumlah yang paling banyak. Carbon masuk dalam tubuh manusia melalui proses inspirasi (menghirup udara dari luar tubuh masuk dalam paru-paru) dan proses metabolisme (proses makan). Dalam siklus carbon, dimulai dari alam/udara bebas, (bukan berarti karbon dibuat di alam) carbon berada di sekitar lingkungan manusia dan makhluk hidup. Secara bebas dan dalam pelbagai bentuk senyawa atau materi, seperti karbondioksida (CO2) dan karbohidrat (CH2O). Carbon secara bebas dapat terus berkembang di udara. Perpindahan carbon di alam yang terbawa oleh udara bebas disebabkan oleh perbedaan tekanan. Proses inspirasi makhluk hidup (kebanyakan dilakukan tumbuhan) mengakibatkan perbedaan tekanan antara di luar tubuh dan di dalam tubuh, sehingga udara masuk melalui lubang daun (secara sempurna) yang kemudian diabsorbsi (diserap) dan dipecah menjadi senyawa yang lebih sederhana. Mulai dari sini, carbon mulai digunakan untuk menghasilkan energi melalui proses fotosintesis. Selain proses di atas, carbon juga dapat masuk dalam tubuh melalui absorbsi akar. Carbon juga terkandung dalam tanah, entah dalam bentuk senyawa apapun. Proses masuknya carbon disebabkan oleh daya serap akar dan tekanan akar. Seluruh hasil penyerapan ini akan diproses dan disebar ke seluruh tubuh, sehingga carbon terkandung di dalam tubuh.
Tubuh tumbuhan telah mengandung carbon dalam tubuh, kemudian dari tubuh ini mulailah rantai makanan. Rumput dimakan belalang, belalang dimakan burung, burung dimakan ular, tubuh ular mati diuraikan oleh dekomposer. Proses penguraian ini merupakan proses penguraian rantai kompleks yang mengandung carbon dan kemudian dilepaskan kembali ke alam.
Dari seluruh proses tersebut, diketahui bahwa carbon tidak pernah hilang dalam keberadaanya di alam. Nah disini kita mendapat persamaan dengan pengetahuan. Pengetahuan tidak pernah ditemukan dan hilang. Pengetahuan berada dalam bentuk wujud, yang secara definitif (penjelasan) berbeda dengan bentuk wujud materi manusia. Pengetahuan lebih bersifat daripada bermateri. Maksudnya disini wujud dari pengetahuan ini secara inderawi (dapat dirasa melalui alat indera) tidak dapat dirasakan. Pengetahuan lebih terkoneksi (terhubung) pada penerimaan di luar semua. Ia lebih bermain rasa dalam konteks kejatidirian. Ia menjadi hal yang paling dasar dalam kedasaran. Hal itu lah yang dipahami sebagai wujud pengetahuan, sedangkan hasil dari pengetahuan itu yang saat ini dipelajari disatuan pendidikan atau perguruan tinggi seperti Biologi, geografi, matematika, sejarah, dll. Dengan kata lain pengetahuan ini bukan mempelajari sesuatu akan tetapi cara untuk mengetahui.
Pertanyaan besar apakah pengetahuan itu ada terlebih dahulu atau wujud materi yang lebih dahulu ada. Berbicara mengenai pembahasan mengenai meja, apakah wujud benda itu lebih ada terlebih dahulu ataukah penjelasan ketahuan akan meja yang lebih ada duluan. Meja secara harfiah akan diketahui sehingga melalui pencandraan meja dapat didefinisikan sebagai benda yang terbuat dari kayu, memiliki kaki berjumlah empat, memiliki permukaan datar, berwarna coklat. Pengetahuan ini dalam memiliki kebenaran 100% saat masih dapat diamati. Akan tetapi, bagaimana pengetahuan akan meja itu dapat dijelaskan tanpa melihat wujud. Misalnya saat kita berada didaerah terpencil dengan budaya yang agak berbeda, secara informasi pun masih terisolir. Dalam posisi tersebut kita tidak menemui benda meja, akan tetapi kita membutuhkan meja saat itu pula. Yang jadi kendala adalah masyrakat di situ tidak mengetahui apakah meja itu. Sehingga kita perlu menjelaskan apakah meja itu. Pengetahuan yang kita kasih kepada masyarakat akan meja inilah dikatakan bahwa wujud pengetahuan lebih ada dahulu sebelum wujud meja.
Pernyataan di atas, tidak perlu untuk diperdebatkan. Pengetahuan memiliki keberadaan atau wujud. Kendala dalam pengetahuan adalah apakah ia saat ini dapat ditemukan oleh proses penerimaan akal atau tidak? Kemampuan penerimaan akal sangat mempengaruhi bagaimana pengetahuan itu terkandung (internalisasi) dalam diri manusia. Pengetahuan dalam keberadaannya telah ada dalam sekitar manusia, sedangkan otak (sebagai bentuk akal) melakukan proses kendali informasi baik disimpan, disampaikan, diolah atau diproses lainnya. Dalam akal (jika bisa dilepaskan dengan faktor lain) terjadi proses memproses menemukan pengetahuan. Proses ini meliputi pola yang telah diungkap di atas.
Meski demikian, pengetahuan juga dapat dikatakan sebagai sebuah energi yang menyusun alam semesta ini. Sifat energi meliputi energi tidak dapat diciptakan, energi tidak dapat dimusnahkan, dan energi dapat diubah. Seperti itu pula sifat pengetahuan.
Pengetahuan tidak dapat diciptakan. Telah kita ketahui bahwa pengetahuan merupakan bentuk wujud yang terkandung secara hakiki dalam hubungan kausalitas dengan seluruh faktor baik internal maupun eksternal tubuh. Keberadaan ilmu tidak terletak dalam diri manusia atau dalam benda yang diketahui. Pengetahuan berada dalam wujudnya metafisika yang secara wujud dapat dirasakan manusia. Manusia tidak menciptakan pengetahuan. Jika ada pengetahuan yang dikatakan telah ditemukan maka yang ditemukan itu bukan pengetahuan, akan tetapi realitas (sudut pandang) lain pengetahuan yang telah ditransformasikan. Pengetahuan dalam penyampaiannya yang sering berbeda. Mulai dari bahasa, sudut pandang pembahasan, dan cakupan pembahsan. Keberadaan pengetahuan tertutup oleh kondisi internal tubuh, ini dapat dibuka dengan proses penguatan intuisi atau menampakkan pelbagai pengetahuan yang berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat abstrak atau imajinasi. Selain kondisi internal, keberadaan pengetahuan tertutup oleh kondisi eksternal tubuh berupa sekat penampakan oleh dimensi. Faktor kedua ini lebih disebabkan oleh alat yang digunakan dan bagaimana alat indera manusia menerimanya.
Pengetahuan tidak dapat dimusnahkan. Pengetahuan juga terkandung dalam wadah wujud manusia. Wujud pengetahuan dalam wadah manusia ini akan nampak saat manusia membutuhkannya, ia lebih sering dirasakan secara proses tidak sadar. Naluri atau intuisi, demikian dikatakan apabila kata ini dapat mewakili pengetahuan internal. Selain itu, pengetahuan juga terkandung dalam proses siklus kehidupan di alam semesta yang tersusun atas pelbagai komponen-komponen materi. Dengan kata lain pengetahuan terkandung dalam realitas alam dan manusia yang sebagai proses berpikir. Sehingga jika kedua komponen ini tiada maka hilanglah pengetahuan yang terjabarkan dan pengetahuan akan kembali pada sumbernya (layaknya energi). Hilangnya dua komponen ini berarti hilangnya kehidupan. Selama ada kehidupan maka pengetahuan itu tetap ada.
Pengetahuan dapat diubah bentuk. Menikmati pengetahuan melalui panca indera hanya dapat dirasakan dengan mengubah pengetahuan menjadi langkah-langkah taktis yang dapat digunakan oleh fisik manusia. Misalnya, pengetahuan akan keberadaan energi yang sangat diperlukan manusia yang bersumber dari cahaya matahari. Pengetahuan secara kompleks ini akan diubah oleh proses berfikir manusia menjadi pengetahuan biologi yang memberikan pengetahuan akan energi yang telah ditransformasikan dalam tubuh tumbuhan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh manusia. Ubahan bentuk pengetahuan ini lah yang digunakan dalam pengetahuan di perguruan tinggi atau instansi-instansi yang mengembangkan pengetahuan sains uuntuk kesejahteraan hidup manusia.
Pengetahuan secara keseluruhan tidak terkumpul dalam sebuah tempat atau waktu, layaknya air danau atau lautan. Pengetahuan lebih tepat jika dikatakan sebagai air yang mengalir yang bermuara di laut. Manusia yang mengikuti aliran air ini akan terbawa menuju laut pengetahuan. akan tetapi jika manusia membuat pengetahuan yang didasari atas nafsu duniawi, maka ia layaknya manusia naik perahu motor yang mengarungi aliran pengetahuan, ia sendiri yang menentukan pengetahuan yang dia inginkan, padahal dalam aliiran pengetahuan ini banyak karang, hewan buas, atau celah kesesatan yang mengakibatkan manusia tidak sampai pada lautan pengetahuan.
Beberapa prisnsip pengetahuan meski kita ketahui, meliputi kemutlakan (sesuatu yang tidak dapat dibantahkan) merupakan pusat, waktu bersifat atas sebuah kehadiran, materi berada dalam keadaan yang telah ada sebagai bentuk prinsip materi dan prinsip energi. Dengan demikian maka pengetahuan akan dapat diketahui sebagai hasil proses berfikir dan intuisi intelektual. Pengetahuan bukanlah spekulasi (dugaan) manusia akan ralitas yang terjadi. Pengetahuan juga bukan pengalaman spiritual yang diperoleh melalui ritual-ritual aneh, seperti menyendiri di kubur dengan diiringi ucapan-ucapan yang terus diulang yang didekatnya diberi bakaran dupa, kembang tujuh rupa, telur ayam hitam, atau yang lainnya.
Mengenai relitas pengetahuan, pengetahuan bisa dibilang sebagai relitas puncak yang berada setelah kondisi transendensi atau dapat juga berada dalam posisi yang sama dengan imanen. Sehingga pengetahuan terjabarkan dalam alam atau diri manusia setelah diturunkan dari sumbernya, demikian penjabaran oleh Sayyed Hossein Hasr. Keberadaan sumber (the power of supra intelectual) yang jauh dari alat indera manusia ini diberikan dalam kondisi relitas puncak atau transenden puncak kemudian baru terdefinisikan melalui wujud pengetahuan yang digunakan manusia. Wujud pengetahuan berupa pengetahuan realitas (bersifat tampak) dan subtansi (bersifat tidak tampak).